Pengerian Hipoglikemi
Hipoglikemi adalah suatu keadaan di dalam tubuh manusia dimana kadar gula didalam darahnya cukup rendah hingga dibawah normal.
Tanda dan gejala dari hipoglikemi
Orang dengan hipoglikemi biasanya akan menunjukkan kondisi dimana orang tersebut akan terlihat lemas hebat, muncul keringat yang banyak, tangan dan kaki gemeteran, pusing, serta tidak bisa bergerak.
Tujuan
Tujuan dari penanganan hipoglikemi adalah agar masalah hipoglikemi dapat segera teratasi dan tidak timbul masalah yang lebih lanjut pada pasien tersebut.
Hal - hal yang harus dilakukan dan dipantau selama pasien terjadi hipoglikemi adalah
- Pantau keadaan klinis: lemas hebat, muncul keringat banyak, dan gemetaran
- Pantau GDS (gula darah sewaktu) pasien
- Kaji adanya riwayat penyakit gula (diabetes melitus)
Prosedure Penatalaksanaan Penanganan Hipoglikemi (gula darah rendah):
- Jika GDS < 60 mg/dl berikan dextrose 40% sebanyak 2 flacon + infus dextrose 10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 60 - 80 mg/dl berikan dextrose 40% sebanyak 1 flacon + infus dextrose 10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 80 - 100 mg/dl berikan infus dextrose 10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 100 - 150 mg/dl berikan infus dextrose 5% 500cc/8 jam
- Jika GDS 150 - 200 mg/dl berikan infus Nacl 0.9% 500cc/8 jam
Lakukan pemeriksaan GDS tiap jam sampai GDS > 100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya Lakukan pemeriksaan GDS tiap 2 jam sampai GDS >100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya lakukan pemeriksaan GDS tiap 4 jam sampai GDS > 100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya
lakukan pemeriksaan GDS tiap 6 jam KGDH + koreksi dosis kelipatan 5
unit mulai dari GDS 150 - 200 mg/dl dan kelipatannya.
Artinya:
- GDS 150 - 200 mg/dl berikan insulin sebanyak 5 unit
- GDS 200 - 250 mg/dl berikan insulin sebanyak 10 unit
- GDS 250 - 300 mg/dl berikan insulin sebanyak 15 unit
- GDS 300 - 350 mg/dl berikan insulin sebanyak 20 unit
- GDS 350 - 400 mg/dl berikan insulin sebanyak 25 unit
Semoga bermanfaat..
Minggu, 24 Januari 2016
Rabu, 06 Januari 2016
Standar Operational Prosedure (SOP) Universal Precaution / Kewaspadaan Umum
|
Pengertian
|
Kewaspadaan
dini adalah suatu keadaan yang harus dilakukan secepatnya tentang adanya
kasus/tersangka agar dapat segera dilakukan tindakan atau langkah untuk
membatasi kasus kejadian/penyakit yang terkait.
|
|
Tujuan
|
1. Pencegahan
infeksi di rumah sakit
2. Upaya
pencegahan standar atau pencegahan dasar pada semua kondisi
3. Salah satu
bagian inti dari teknik isolasi
4. Suatu bentuk upaya pencegahan penularan atau meningkatnya angka penyakit di rumah sakit terkait
|
|
Kebijakan
|
1. Standart
rumah sakit yang tidak punya pengelolaan kewaspadaan dini akan diturunkan
levelnya.
2. Semua
kendali dan tanggung jawab ada pada tenaga medis dan paramedis
3. Peralatan
dalam keadaan steril saat digunakan diawal dan dilakukan strilisasi ulang saat
setelah pemakaian sesuai prosedur sterilisasi alat penanganan jenazah
4. Petugas
Rumah Sakit melakukan untuk penanganan yang dilakukan oleh rs dibawah
tanggung jawab RS yang bersangkutan penyakit –penyakit dalam tingkatan ini
adalah HIV-AIDS dan FLU burung tetapi tidak menutup penyakit lain yang punya
kategori hampir sama.
|
|
Prosedur
|
DISIAPKAN
alat :
1. Antiseptik
: alkohol 60- 90%,klorheksidin 2-4 %, povidon iodin + alkohol 3 %
2. Air dari
kran yang mengalir
3.
Alat
pelindung diri diantaranya : sarung tangan, kaca mata, pelindung muka (masker dan kaca
mata), gaun/jubah/apron dan pelindung kaki
Penatalaksanaan
1. Petugas
melakukan cuci tangan dengan menggunakan antiseptik bisa pilih salah satu
antiseptik dan dilanjutkan dengan
mencuci tangan kembali dengan air mengalir selam 2-5 menit
2. Semua
petugas memakai alat pelindung semua alat haru dipakai pada saat menangani
jenazah penyakit dalam kewaspadaan dini untuk mengurangi pejanan darah dan
cairan tubuh jenazah
3. Setelah
proses penatalaksanaan jenazah (sesuai protap penalaksanaan jenazah) petugas
melepasakan semua peralatan.
4. Pengelolaan
alkes bekas pakai (dekoytaminasi, streilisasi , diinfeksi sesuia protap
penatalaksanaan pengelolaan alkes bekas pakai
5. Pengelolaan
benda tajam : untuk benda habi paki yang berupa benda tajam pengelolaan
sampah dengan dibakar di incenerator
6. Selanjutnya
pengelaolaan limbah ruangan di RS sesuai prosedur di Rumah Sakit
masing-masing
|
|
Unit terkait
|
RS Bersangkutan
|
Rabu, 23 Desember 2015
DAFTAR KUMPULAN SOP KEPERAWATAN TERLENGKAP
Pada postingan kami sebelumnya telah dibahas mengenai pengertian SOP Keperawatan, Tujuan dari SOP Keperawatan, bentuk dan format SOP Keperawatan, Langkah dan cara membuat SOP Keperawatan. Nah, dikarenakan banyaknya permintaan dari para pembaca tentang DAFTAR SOP KEPERAWATAN TERLENGKAP maka penulis berusaha untuk membuat DAFTAR SOP RUMAH SAKIT DAN PUSKESMAS YANG LENGKAP.
DAFTAR SOP RUMAH SAKIT TERLENGKAP:
SOP RUANG IGD (Instalasi Gawat Darurat) :
- SOP Menerima pasien baru
- Menerima rujukan
- Pengkajian head to too
- Memasang infus
- SOP Memasang oksigen melalui nasal kanul, RM dan NRM
- SOP Asistensi intubasi
- Menjahit luka
- Resusitasi cairan
- SOP Triage
- Pemasangan neck collar
- Observasi pasien di IGD
- Penggunaan DC Syock
- Penanganan luka KLL
- SOP Penanganan luka bakar
- Menghentikan perdarahan
- Alur kegawatdaruratan
- SOP Pemasangan gips, bidai, dan traksi
Kumpulan SOP Poli Klinik :
- Menerima pasien baru
- SOP Mengukur berat dan tinggi badan
- Pengkajian rawat jalan
- Pengukuran TTV: Suhu, Tekanan darah, Nadi, Respirasi, dan Saturasi O2
- SOP Ganti balutan dan perawatan luka
- Mengambil darah vena
- Mengambil darah arteri
- Pemeriksaan EKG
- SOP Pemeriksaan gula darah
- SOP Pengambilan sample urin
- SOP Pengambilan sample dahak / sputum
- Pemeriksaan fisik head to too
- SOP Asistensi dokter
- Aff jahitan
Kumpulan SOP Ruang Rawat Inap :
- Pengkajian pasien baru
- SOP Pengukuran TTV: Suhu, Tekanan darah, Respirasi, Nadi dan Saturasi O2
- SOP Pemasangan DC / Folley Kateter dan kondom
- Aff jahitan
- SOP Ganti balutan dan perawatan luka
- Pemberian obat per oral
- Pemberian obat secara bukal
- Injeksi intra muscullar
- Injeksi intra vena
- Injeksi intra cutan
- Injeksi sub cutan
- Pemberian obat sub lingual
- Pemberian obat tetes telinga
- Pemberian obat tetes mata
- Pemberian obat topikal pada kulit
- Pemberian oksigen melalui nasal kanul, RM dan NRM
- SOP Suctioning
- SOP Code blue
- SOP Resusitasi cairan
- SOP Resusitasi jantung paru (RJP)
- SOP DC Syock
- Bronchial washing
- SOP Batung efektif
- Fisioterapi dada
- SOP Counting test
- SOP Nafas dalam
- SOP Pengambilan sample sputum, urine dan darah
- Pengambilan darah vena
- Pengambilan darah arteri
- SOP Inhalasi atau nebulizer
- Cuci tangan bersih
- Cuci tangan steril
- Memandikan pasien ditempat tidur
- SOP Cara melakukan ROM
- Memposisikan pasien miring kiri, kanan, supine, dan pronasi
- Memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi roda, dari kursi roda ke tempat tidur, dari tempat tidur ke brankar, dari brankar ke tempat tidur
- Melakukan tekhnik massase
- Cara melakukan kompres panas
- Cara melakukan kompres dingin
- SOP Memakai sarung tangan steril dan bersih
- Memakai masker yang benar
- SOP Perawatan jenazajah / mayat
- Melakukan tindakan ROM / Latihan rentang gerak
- Cara melakukan huknah terbaru
- SOP Pemberian transfusi darah
- Pemasangan NGT (naso gastrik tube)
- Pemberian makan melalui NGT
- Pemberian diit / makan per oral
- Menyiapkan tempat tidur / verbed
- SOP Oral hygiene / vulva hygiene / genital hygiene
- Cara memotong dan merawat kuku
- Postural drainage
- SOP Bilas lambung
- Perawatan trakheostomi
- Perawatan pasien dengan botol WSD (water seal drainage)
- SOP Persiapan pasien untuk operasi
- Penggunaan infus pump dan syringe pump
SOP Pelayanan Medik dan Nonmedik:
- SOP Penggunaan ambulance
- SOP Padam listrik
- Pengadaan stock form - form
- Merujuk pasien
- SOP Pengendalian rekam medik pasien
- Pemeriksaan radiologi (CT Scan baik kontras maumpun nonkontras, foto thorax dan foto tulang yang lainnya).
- Permintaan kassa dan Kebutuhan alat ke CSSD
- Pengelolaan linen rumah sakit
- Penggunaan APAR
- SOP Lapor pasien gawat atau perburukan atau penurunan kesadaran
SOP Pelayanan Ruang ICU / HCU / SCU:
- SOP Cara Penggunaan ventilator
- Asistensi intubasi
- Asistensi pemasangan CVC
- Pemasangan monitor EKG
- SOP Pengukuran CVP
- Perawatan CVP
- SOP Aff drain dan jahitan
- Penggunaan infus pump dan syiringe pump
- Penggunaan mesin defibrilator / DC syock
- Penggunaan obat - obatan penenang / sedasi
- SOP Ruang isolasi
- Penanganan pasien menjelang ajal
- Penanganan pasien DNR, WITH DRAWL, WITH HOLD
Itulah kumpulan SOP Keperawatan berdasarkan pembagian ruangannya. Apabila masih ada yang perlu ditambahkan atau diperbaiki silahkan berikan sarannya yang membangun demi kemajuan dunia keperawatan di Indonesia. Prinsipnya apabila peawat pandai, profesional dan terampil maka pujian tidak hanya berasal dari dokter, pasien pun tidak akan merasa segan memberikan pujian kepada kita walaupun hanya sebatas ucapan terimakasih akan tetapi sangat membanggakan bagi perawat. Nah, apabila perawat sudah bekerja sesuai dengan jobdesk dan SOP nya masing-masing maka gaji yang pantas dan sesuai pasti akan mengikuti apa yang telah kita lakukan. Ingat pesan admin, bekerjalah sesuai dengan jobdesk dan SOP yang berlaku, jangan sekali kali melakukan pekerjaan yang bukan merupakan jobdesknya sebab jika anda melakukan kesalahan maka anda akan disalahkan, dan kalaupun anda berhasil melakukan tindakan yang bukan jobdesknya anda tidak akan mendapat penghargaan ataupun pujian. Tetap semangat dan semoga bermanfaat..
Rabu, 16 Desember 2015
SOP ALUR LINEN KOTOR DAN BERSIH
PENGERTIAN LINEN :
Adalah bahan / kain yang digunakan di rumah sakit untuk
kebutuhan pembungkus kasur, bantal, baju pasien, guling dan alat instrument steril lainnya.
TUJUAN ALUR LINEN :
A. Mencegah tertukarnya linen dari bagian yang satu kebagian
yang lain.
B. Stock linen untuk ruang rawat terpenuhi .
C. Menjaga kualitas dan kebersihan linen agar tetap tahan lama.
D. Mengurangi komplain dari pasien,seperti : kusut, robek, luntur dll.
TUGAS PETUGAS LAUNDRY ( HOUSE KEEPING ) :
B. Stock linen untuk ruang rawat terpenuhi .
C. Menjaga kualitas dan kebersihan linen agar tetap tahan lama.
D. Mengurangi komplain dari pasien,seperti : kusut, robek, luntur dll.
TUGAS PETUGAS LAUNDRY ( HOUSE KEEPING ) :
a. Mengambil linen kotor dari ruang rawat .
b. Mengantar linen bersih ke ruang dialysis sesuai dengan stock.
c. Mencocokan jumlah permintaan tambahan dengan stock yang tersedia.
d. Menyediakan tempat untuk linen umum dengan linen terinfeksi.(Bedakan warna kantong plastik).
b. Mengantar linen bersih ke ruang dialysis sesuai dengan stock.
c. Mencocokan jumlah permintaan tambahan dengan stock yang tersedia.
d. Menyediakan tempat untuk linen umum dengan linen terinfeksi.(Bedakan warna kantong plastik).
CARA KERJA :
Ruang laundry ( linen room )
a. Linen kotor.
•Jumlah linen dihitung sesuai dengan jenisnya dan dicatat .
•Proses pencucian linen dipisahkan antara umum dengan terinfeksi.
Ruang laundry ( linen room )
a. Linen kotor.
•Jumlah linen dihitung sesuai dengan jenisnya dan dicatat .
•Proses pencucian linen dipisahkan antara umum dengan terinfeksi.
b. Linen bersih .
•Disetrika sambil perhatikan ada bercak atau robek pada linen.
•Dilipat rapih sesuai kebutuhan.
•Linen disusun sesuai kebutuhan.
•Disetrika sambil perhatikan ada bercak atau robek pada linen.
•Dilipat rapih sesuai kebutuhan.
•Linen disusun sesuai kebutuhan.
Ruang Rawat Inap, IGD, OK
1. Linen diantar ke ruang loundry setiap sore hari, sebelum memandikan pasien.
2. Masukan linen kedalam ruang linen, disusun dan diatur sesuai tempatnya.
3. Menghitung linen bersamaan dengan saat memasukan linen kedalam rak/ lemari.(Jumlah linen yang diberikan sesuai dengan jumlah linen kotor) dan dicatat di kartu stock.
4.Perhitungan stock dilakukan setiap akan mengambil lnen bersih dan memasukan linen yang baru diambil dari loundry.
5.Jika tidak sesuai dengan stock, dicari penyebabnya.
6.Linen yang telah dipakai pasien dibawa ke ruang loundry dan dimasukan ke dalam kantong plastik yang telah dibedakan warnanya, dan dipisahkan dengan yang terkontaminasi.
1. Linen diantar ke ruang loundry setiap sore hari, sebelum memandikan pasien.
2. Masukan linen kedalam ruang linen, disusun dan diatur sesuai tempatnya.
3. Menghitung linen bersamaan dengan saat memasukan linen kedalam rak/ lemari.(Jumlah linen yang diberikan sesuai dengan jumlah linen kotor) dan dicatat di kartu stock.
4.Perhitungan stock dilakukan setiap akan mengambil lnen bersih dan memasukan linen yang baru diambil dari loundry.
5.Jika tidak sesuai dengan stock, dicari penyebabnya.
6.Linen yang telah dipakai pasien dibawa ke ruang loundry dan dimasukan ke dalam kantong plastik yang telah dibedakan warnanya, dan dipisahkan dengan yang terkontaminasi.
UNIT TERKAIT :
- Ruang Rawat Inap
- Kamar Operasi
- Ruang Loundry
- Instalasi Gawat Darurat
SOP / CARA PEMERIKSAAN EEG (ELECTRO ENCEPHALO GRAFI)
1. Pengertian EEG (Electro Encephalo Graphy)
Adalah suatu cara untuk merekam aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh.
2. Prinsip Kerja Mesin EEG
Dengan elektroda yang ditempelkan pada berbagai daerah tengkorak, potensial permukaan otak direkam. Perekaman ini berlangsung terus menerus untuk beberapa menit. Tegangan yang tercatat pada kertas yang bergerak berupa gelombang-gelombang. Dengan memasang 16 elektroda pada tengkorak aktivitas seluruh otak dapat di tekan dan diselidiki. Tegangan otak sebesar 50 mikrovolt agar dapat direkam harus diperkuat sampai 1 juta kali. Oleh karena itu aliran listrik dari sumber lain seperti gerakan otot kepala atau generator listrik juga ikut tercatat (artefak)
Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang diproduksi pada ujung-ujung dendrit. Tegangan potensial neuron pada setiap waktu berbeda sehingga potensial dendrit juga berubah-ubah. Fluktuasi ini yang tercatat pada kertas EEG.
3. Macam-macam EEG
Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang mencerminkan adanya gaya listrik yang diproduksikan pada ujung-ujung dendrit, sebagai fenomena potensial aksi neuron-neuron yang disalurkan kedndrit-dendritnya dikorteks serebri. Potensial dendrit pada korteks selalu berubah-ubah juga. Fluktuasi inilah yang tercatat pada kertas EEG. Dari sekian banyak fluktuasi, maka dapat dibedakan menurut frekuensinya dan menurut pada gelombangnya.
a. Empat gelombang menurut frekuensinya :
1) Gelombang Alfa, bersiklus 8 – 13 perdetik
2) Gelombang Beta, bersiklus lebih dari 13 perdetik
3) Gelombang teta, bersiklus 4 – 7 perdetik
4) Gelombang Delta, bersilus kurang dari 4 perdetik
b. Fluktuasi potensial otak menurut pola gelombang
1) gelombang lamda, muncul sebagai gelombang positif dekat lobus oksipitalis terutama jika mata menatap sesuatu dengan penuh perhatian.
2) Gelombang tidur, sekelompok gelombang dengan frekuensi 10 – 15 siklus perdetik yang hilang pada waktu tidur dangkal, berbentuk “spindel”.
3) Kompleks K, pola gabungan yang terdiri dari satu atau beberapa gelombang lambat berbaur dengan gelombang-gelombang berfrekuensi cepat, timbul karena ada rangsangan sewaktu tidur dangkal.
4) Gelombang verteks, pola gelombang berbentuk jam, bilateral simetrik didaerah para sagital, antara daerah dan post sentral, sering muncul bersama kompleks K pada waktu tidur dangkal.
c. Gelombang patologis
1) Gelombang runcing (Spike) yaitu gelombang yang runcing dan berlalu cepat (kurang dari 60 milidetik) sering ia muncul secara folifasik, yaitu dengan defleksi keatas kebawah secara berselingan.
2) Gelombang tajam (sharp wave) yaitu gelombang yang meruncing tetapi berlalu lebih lama dari 60 milidetik. Juga gelombang tajam timbul secara polifasik.
3) Gelombang runcing (spike wave)ialah kompleks yang terdiri dari gelombang runcing yang langsung disusul oleh gelombang lambat. Kompleks tersebut muncul dengan frekuensi 3 spd secara teratur, sinkron bilateral dan hilang timbul secara tiba-tiba.
4) Gelombang runcing multipel ialah ledakan dari sejumlah gelombang runcing yang bangkit sekali atau berkali-kali dan biasanya disusul oleh gelombang lambat.
5) Hypsarithmia ialah kompleks yang terdiri dari gelombang lambat yang bervoltase tinggi dan iramanya tidak teratur dimana berbaur gelombang runcing dan tajam.
4. Indikasi Pemeriksaan EEG
a. Penderita dicurigai atau dengan epilepsi
b. Membedakan kelainan otak organik
c. Mengidentifikasi infark pembuluh darah atau adanya lesi (tumor, hematom, abses)
d. Diagnosa retardasi mental atau over dosis obat
e. Menentukan kematian jaringan otak
5. Penatalaksanaan Tindakan EEG
a. Persiapan pasien
1) Penyuluhan kesehatan
a) Penderita diberitahu hal-hal yang akan dilakukan. EEG akan dikerjakan diruangan yang aman (laboratory diagnostik) oleh teknisian EEG. Didalam ruanga penderita akan dipasang elektroda sebanyak 16-24 dengan pasta, elektroda yang kecil tersebut akan dihubungkan dengan mesin EEG, tunjukkan melalui gambar atau video cassate bila memungkinkan..
b) Menganjurkan pada pasien untuk membebaskan rasa gelisah selama 45-60 menit, pemasangan alat bukan merupakan alat yang berbahaya.
c) Melakukan pendekatan kepada pasien untuk mengurangi kemungkinan terjadinya stres, kecemasan atau gemetaran akibat pemasangan elektroda.
d) Menjelaskan kepada pasien bahwa pada waktu pemeriksaan harus dalam keadaan relaksasi sempurna, duduk atau tiduran dengan tanpa gerakan sedikitpun sehingga mendapatkan hasil yang baik.
e) Anjurkan pasien mengikuti perintah petugas selam proseur, antara lain:
- hiperventilasi selam 3-5 menit
- usahakan untuk tetap dapat menutup mata
2) Fisik
a. Obat-obatan depresan susunan saraf pusat (alkohol atau tranqualizer) atau stimulan tidak diberikan selama 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan karena akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas listrik otak. Dokter akan memberikan instruksi untuk pemberian anti konvulsi bila perlu 24 – 48 jam sebelum tindakan.
b. Cairan yang mengandung caffein seperti kopi, cokelat dan the tidak diberikan selama 24 jam sebelum tindakan dilakukan
c. Rambut harus bersih, bebas dari spray, minyak lotion dan hair fastener.
d. Pasien harus makan pagi sebelum melakukan pemeruiksaan, karen ahipoglikemia menyebabkan ketidak normalan potensial listrik.
3) Pelaksanaan / Prosedure Tindakan EEG
a) Posisi pasien berbaring, ciptakan suasana sedemikian rupa sehingga nyaman bagi pasien
b) Petugas EEG menempelkan 14-16 elektroda pada lokasi yang spesifik pada kulit kepala serta menghubungkannya. Melalui kawat penghubung ke mesin/alat EEG.
c) Pencetakan garis dasar (gambar dasar) dihasilkan mengikuti 3 urutan pemeriksaan yaitu hiperventilasi, stimulasi “photic” dan tidur.
Hiperventilasi :
Pasien dianjurkan untuk melakukan hiperventilasi dengan cara mengambil nafas 30-40 nafas melalui mulut setiap menitnya selama 3-5 menit. Perlu diingat kenaikan PH serum kira-kira 7,8 akan menaikkan rangsangan neuron dan akan menyebabkan serangan aktivitas pada pasien epilepsi
Photic stimulasi :
Cahaya yang silau difokuskan kepasien dimana pasien dianjurkan untuk menutup matanya . stimulasi ini akan menyebabkan aktivitas serangan bagi pasien yang mempunyai kecenderungan mendapat serangan
Tidur :
Pasien dianjurkan untuk tidur, jika pasien tidak bisa tidur dapat diberikan hipnotik yang bekerjanya cepat. Hasil perekaman dari aktifitas listrik tersebut diinterpretasikan oleh neurologi
4) Setelah tindakan
- bersihkan dan cuci rambut pasien
- ciptakan lingkungan yang tenang sehingga pasien dapat beristirahat dengan tenang
- berikan posisi tidur yang baik dan perhatikan pernafasan pasien terutama yang menggunakan obat hipnotik
- observasi aktivitas kejang bagi pasien yang cenderung untuk mendapat serangan kejang.
SOP / CARA INFORMED CONSENT (Persetujuan) TINDAKAN MEDIS
Pengertian Informed Consent
Informed Consent adalah Suatu proses pengambilan persetujuan dari pasien / keluarga mengenai tindakan medis/ kedokteran yang akan dilakukan selama pasien dirawat di Rumah Sakit.
Tujuan Informed Consent
Sebagai pedoman persetujuan dari pasien atau keluarga terhadap tindakan yang dilakukan
Sebagai pedoman persetujuan dari pasien atau keluarga terhadap tindakan yang dilakukan
Kebijakan
Dilakukan kepada setiap pasien yang akan dilakukan tindakan
Kedokteran / medis
Prosedur
A. Setelah pasien diindikasikan tindakan yang akan dilakukan oleh dokter, pasien atau keluarga dijelaskan mengenai:
Prosedur
A. Setelah pasien diindikasikan tindakan yang akan dilakukan oleh dokter, pasien atau keluarga dijelaskan mengenai:
- Pengertian tindakan yang akan dilakukan
- Tujuan HD
- Indikasi HD
- Komplikasi HD
- Prosedur tindakan HD
C. Yang berhak menandatangani persetujuan tindakan adalah:
- Pasien itu sendiri dengan usia > 18 tahun dan dalam kondisi sadar penuh
- Pasangan hidup pasien (istri atau suami)
- Orang tua / wali
- Bagi pasien usia < 18 tahun, wali atau orang tua atau keluarga terdekat (penanggung jawab)
Unit Terkait
– Ruang HD
– Rawat Inap
– Rawat Jalan
– I G D
– Ruang HD
– Rawat Inap
– Rawat Jalan
– I G D
Senin, 14 Desember 2015
SOP / Cara Tindakan Lumbal Fungsi (Pungsi)
1. Pengertian Prosedure Lumbal Fungsi
Adalah suatu cara pengambilan cairan cerebrospinal melalui pungsi pada daerah lumbal
2. Tujuan Tindakan Lumbal Fungsi
Mengambil cauran cerebrospinaluntuk kepentingan pemeriksaan/diagnostik maupun kepentingan therapi
3. Indikasi dari Tindakan Lumbal Pungsi
- Untuk diagnostik
- kecurigaan meningitis
- Kecurigaan perdarahan sub arachnoid
- Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi
- Evaluasi hasil pengobatan
- Untuk Therapi
- Pemberian obat anti neoplastik atau anti mikroba intra tekal
- Pemberian anesthesi spinal
- Mengurangi atau menurunkan tekanan CSF
4. Persiapan Tindakan Lumbal Pungsi
- Persiapan pasien
- Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut
- Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal pungsi.
- Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan
- Persiapan Alat
- Bak streil berisi jarum lumbal, spuit dan jarum, sarung tangan, kassa dan lidi kapas, botol kecil (bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis), dan duk bolong.
- Tabung reaksi tiga buah
- Bengkok
- Pengalas
- Desinfektan (jodium dan alkohol) pada tempatnya
- Plester dan gunting
- Manometer
- Lidokain/Xilocain
- Masker. Gaun, tutup kepala
5. Prosedur Pelaksanaan Tindakan Lumbal Pungsi
- Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur. Lutut pada posisi fleksi menempel pada abdomen, leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada (posisi knee chest)
- Pilih lokasi pungsi. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa, meskipun dianjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus spinosus L4). Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan.
c. Dokter mengenakan masker, tutup kepala, pakai sarung tangan dan gaun steril.
d. Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup.
e. Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain, infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen longitudinal dan periosteum
f. Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya kedalam jaringan subkutis. Jarum harus memasuki rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra.
g. Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahan-lahan, sampai terasa lepas. Ini pertanda ligamentum flavum telah ditembus. Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan serebrospinal. Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. Bila cairan tetap tidak keluar. Masukkan lagi stiletnya dan tusukka jarum lebih dalam. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. Ulangi cara ini sampai keluar cairan.
h. Bila akan mengetahui tekananCSF, hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan, normalnya 60 – 180 mmHg dengan posisi pasien berrbaring lateral recumbent. Sebelum mengukur tekanan, tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan.
i. Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal, hindarkan mengedan.
j. Untuk mengetahui apakah rongga subarahnoid tersumbat atau tidak, petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10 detik. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan, tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik.
k. Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan. Masukkan cairan tesbut dalam 3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen, setiap tabung diisi 1 ml cairan CSF. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan hitung sel, biakan dan pewarnaan gram, protein dan glukosa. Untuk pemeriksaan none-apelt prinsipnya adalah globulin mengendap dalam waktu 0,5 jam pada larutan asam sulfat. Cara pemeriksaanya adalah kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0,7 ml dengan menggunakan pipet, kemudian masukkan cairan CSF 0,5 . diamkan selama 2 – 3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih.
Cara penilainnya adalah sebagai berikut:
( - ) Cincin putih tidak dijumpai
( + ) Cincin putih sangat tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih
( ++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi opolecement (berkabut)
( +++ ) Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh
( ++++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat keruh
Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin, prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air. cAranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF, perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan.
l. Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada pasien dengan hydrocepalus berat maka maksimal cairan dikeluarkan adalah 100 cc.
m. Setelah semua tindakan selesai, manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya. Pasang balutan pada bekas tusukan.
6. Setelah Prosedur
a. Klien tidur terletang tanpa bantal selama 2 – 4 jam
b. Observasi tempat pungsi terhadap kemungkinan pengeluaran cairan CSF
c. Bila timbul sakit kepala, lakukan kompres es pada kepala, anjurkan tekhnik relaksasi, bila perlu pemberian analgetik dan tidur sampai sakit kepala hilang.
7. Komplikasi
a. Herniasi Tonsiler
b. Meningitis dan empiema epidural atau sub dural
c. Sakit pinggang
d. Infeksi
e. Kista epidermoid intraspinal
f. Kerusakan diskus intervertebralis
Langganan:
Postingan (Atom)