Tampilkan postingan dengan label kumpulan sop terlengkap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan sop terlengkap. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2018

SOP / Cara Mengatasi Penderita Mimisan yang Benar

Cara Pertolongan Pertama pada Penderita Mimisan yang Bnar
Hidung berdarah atau mimisan dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya pukulan yang mengenai hidung, iritasi pada membran mukosa hidung karena berusaha mengeluarkan sesuatu secara berulang dari rongga hidung, atau karena infeksi.
Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat', Kebanyakan perdarahan hidung yang terjadi pada anak-anak tidak berbahaya. Namun bila terjadi pada orang tua atau dewasa, hal ini dapat menjadi masalah serius dan membutuhkan penanganan medis.

Apabila menemui hidung berdarah atau mimisan, lakukanlah hal-hal sebagai berikut sebagai pertolongan pertama pada penderita mimisan:
1. Mintalah korban untuk duduk dengan badan condong ke depan. Jaga mulut supaya tetap terbuka supaya darah tidak menutup jalan napas.
2. Pencet hidung selama 15 menit. Tekan di bawah tulang hidung pada bagian ujungnya, lepaskan perlahan.
3. Jangan biarkan korban melesitkan ingus. Apabila perdarahan terus berlangsung, pencet hidungnya lagi selama 5 menit dan pastikan korban tidak menelan darah yang keluar.
4. Ambil kain basah atau es yang dibungkus dengan kain. Tempelkan pada hidung dan muka korban untuk mempersempit pembuluh darah.
5. Bila perdarahan berlanjut dan ada indikasi patah tulang, segera bawa ke unit penanganan gawat darurat.

Semoga bermanfaat..

Selasa, 04 Juli 2017

SOP Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)

Definisi / Pengertian Water Seal Drainage (WSD)
WSD adalah merupakan suatu tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan baik darah atau pus dari rongga pleura ataupun rongga thorax (mediastinum) dengan menggunakan selang penghubung dari rongga ke botol WSD.


Tujuan dari Tindakan Pemasangan WSD
- Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak
- Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
- Mengembangkan kembali paru yang kolaps
- Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada
- Mengembalikan fungsi paru yaitu “mechanis of breathing”


Tipe atau Sistem WSD
A. WSD dengan sistem satu botol
  1. Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks.
  2. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol.
  3. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang bisa menyebabkan kolaps paru.
  4. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar.
  5. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi.
  6. Undulasi (gelembung udara) pada selang cairan mengikuti irama pernafasan yaitu saat :
  • Inspirasi akan meningkat
  • Ekpirasi menurun
B. WSD dengan Sistem 2 Botol
  1. Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol water seal.
  2. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal.
  3. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2.
  4. Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD Bisasanya digunakan untuk mengatasi adanya cairan dan udara pada rongga dan pada efusi pleura.
C. WSD dengan Sistem 3 Botol
  1. Sama dengan sistem 2 botol,hanya ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan.
  2. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan.
  3. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3.
  4. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD.
  5. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan.
  6. Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
  • Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua
  • Tube pendek lain dihubungkan dengan suction
  • Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer

Jenis Pemasangan atau Lokasi Penempatan Selang WSD

1. Pleuren Tube:
Adalah digunakan untuk mengeluarkan cairan / udara dari rongga pleura, untuk mengembalikan tekanan negative intra pleura, memungkinkan terjadinya ekspansi paru setelah adanya cairan transudat (infeksi) dan eksudat (trauma).
  1. Area pemasangan tube pada pleura yaitu pada: Bagian apex paru (apical), Interolateral interkosta ke 1-2.
  2. Fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
  3. Bagian basal: Postero lateral interkosta ke 8-9
  4. Fungsi : untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura
2. Mediastinal Tube :
Adalah digunakan untuk mengalirkan cairan dari rongga mediatinum setelah operasi jantung atau operasi lain di mediastinum.


Indikasi Pemasangan WSD
1. Pneumothoraks :
  • Spontan > 20% oleh karena rupture bleb
  • Luka tusuk tembus
  • Kerusakan selang dada pada sistem drainase
2. Hemopthorak:
  • Robekan pleura/trauma
  • Kelebihan antikoagulan
  • Pasca bedah thorak (Thorakotomy)
3. Efusi pleura: penumpukan cairan non fisiologis yang berlebih
4. Emfisema: ketidak elastisan paru karena penyakit obstruktif.


Komplikasi Pemasangan WSD
• Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia
• Komplikasi sekunder : infeksi


Persiapan Tindakan WSD
a. Pengkajian Pasien
- Memeriksa kembali instruksi dokter
- Mengecek inform consent
- Mengkaji status pasien; TTV dan status pernafasan

b. Persiapan Pasien
1. Siapkan pasien
2. Memberi penjelasan kepada pasien mencakup :
  • Tujuan tindakan
  • Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD: Posisi klien dapat duduk atau berbaring
  • Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam, distraksi
  • Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena
c. Persiapan alat
  • Sistem drainage tertutup
  • Motor suction
  • Slang penghubung steril
  • Botol berwarna putih/bening dengan kapasitas 2 liter, bistury/silet, trokart, cairan antiseptic, benang catgut dan jarumnya, duk bolong, sarung tangan, spuit 10cc dan 50cc, kassa.
  • NACl 0,9%, konektor, set balutan, obat anestesi (lidokain, xylokain), masker
d. Pelaksanaan
Prosedur ini dilakukan oleh dokter. Perawat membantu agar prosedur dapat dilaksanakan dengan
baik , dan perawat memberikan dukungan moril pada pasien.

Cara Pemasangan WSD (Oleh Dokter Spesialis Pulmonologi) :
  1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea aksillaris anterior dan media.
  2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.
  3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai muskulus interkostalis.
  4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan.
  5. Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga pleura / menyentuh paru.
  6. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat dengan menggunakan Kelly forceps.
  7. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke dinding dada.
  8. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.
  9. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.
  10. Tindakan perawatan pasca pemasangan WSD.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Selama Pemasangan WSD :
1. Perhatikan undulasi pada selang WSD, bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi dapat terjadi antara lain :
  • Motor suction tidak berjalan
  • Selang tersumbat
  • Selang terlipat
  • Paru-paru telah mengembang
  • Oleh karena itu, yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi sistem drainage,
2. Amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
3. Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar.
4. Cek batas cairan seal dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas yang telah ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah air.
5. Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui jumlah cairan yg keluar.
6. Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama.
7. Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan.
8. Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan sampai selang terlipat.
9. Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi.
10. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu.
11. Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah cairan yang dibuang.
12. Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran.
13. Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis, emphysema subkutan.
14. Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk efektif.
15. Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh.
16. Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD.
17. Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD.

Minggu, 30 April 2017

SOP/Cara Injeksi Intra Vena Melalui Selang Infus

Pengertian Pemberian Injeksi Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)
Menurut Ambarawati (2009), pemberian obat secara injeksi (parenteral) merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan menyuntikkan obat tersebut ke jaringan tubuh atau pembuluh darah dengan menggunakan spuit.

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik.

Injeksi intravena (bolus) adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena atau melalui karet selang infuse dengan menggunakan spuit. Sedangkan pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang menghantarkan darah ke jantung. Injeksi intravena bertujuan untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorpsi dari pada dengan injeksi perenteral lain, menghindari terjadinya kerusakan jaringan serta memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar.


Tujuan Pemberian Injeksi Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)

  1. Mendapatkan reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada injeksi parenteral lain
  2. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral.
  3. Mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit
  4. Menghindari terjadinya kerusakan jaringan.
  5. Memperbaiki keseimbangan asam basa
  6. Memasukkan obat dalam jumlah yang besar
  7. Memberikan tranfusi darah
  8. Menyediakan medium untuk pemberian obat intravena
  9. Membantu pemberian nutrisi parenteral
  10. Memonitor Tekanan Vena Sentral (CVP)

Persiapan Alat sebelum Pemberian Injeksi Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)
  1. Sarung tangan satu pasang
  2. Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau spuit imunisasi
  3. Bak instrument
  4. Perlak dan alasnya
  5. Bengkok
  6. Wastafel atau tempat cuci tangan
  7. Kapas alkohol
  8. Obat injeksi dalam vial atau ampul
  9. Water for injection
  10. Daftar pemberian obat
  11. Waskom berisi larutan chlorine 0,5%

Procedure & Teknik Melakukan Injeksi Intravena Melalui Bolus:
  1. Memberikan salam dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan procedure serta tujuannya.
  2. Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien.
  3. Memasang sampiran.
  4. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
  5. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
  6. Memakai sarung tangan.
  7. Oplos obat menggunakan water steril for injection hingga tercampur. Selanjutnya tarik menggunakan spuit.
  8. Memastikan tidak ada gelembung udara pada spuit dengan cara mencoba spuit terlebih dahulu, lalu simpan pada bak instrumen.
  9. Mencari tempat penyuntikan obat pada karet selang atau pada tutup area injeksi pada vasofix.
  10. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik.
  11. Melalukan swab atau mendesinfeksi karet selang infus (bolus) dengan kapas alkohol, secara sirkular dengan diameter + 5 cm.
  12. Mengklem cairan infuse.
  13. Menusukkan jarum ke dalam karet selang infus (bolus) dengan tangan yang dominan.
  14. Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk selang infus.
  15. Memasukkan obat perlahan-lahan ke dalam vena dengan kecepatan maksimal 5 cc/menit. Untuk obat-obatan yang pekat sebaiknya dioplos terlebih dahulu menggunakan water steril.
  16. Menarik jarum keluar setelah obat dimasukkan, selanjutnya swab lagi menggunakan kapas alkohol.
  17. Periksa kecepatan tetesan cairan infuse.
  18. Membereskan alat, buang alat suntik dan bekas tempat obat dengan benar.
  19. Buang sampah pada tempat sampah medis.
  20. Buka sarung tangan dan buang pada tempat sampah medis.
  21. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk atau tissue hingga kering dan bersih.
  22. Melakukan evalusi dan respon pasien setelah tindakan dilakukan.
  23. Dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.
Semoga bermanfaat..

Sabtu, 04 Maret 2017

SOP Pemasangan NGT (Naso Gastrik Tube)

DEFENISI PEMASANGAN NGT
Melakukan pemasangan selang (tube) dari rongga hidung ke lambung (gaster) menggunakan tekhnik non steril (bersih).
 
 TUJUAN PEMASANGAN NGT
  1. Memasukkan makanan cair/obat-obatan, cair/padat yang dicairkan.
  2.  Mengeluarkan cairan/isi lambung dan gas yang ada dalam lambung (bilas lambung).
  3. Mengirigasi karena perdarahan/keracunan dalam lambung.
  4. Mencegah/mengurangi nausea dan vomiting setelah pembedahan atau trauma.
  5. Mengambil spesimen dalam lambung untuk studi laboratorium.
 
PERSIAPAN ALAT
  1. Selang NGT No.10,12,14,16,18 (tergantung kebutuhan)
  2. Jelly
  3. Spatel lidah
  4. Handscoen bersih
  5. Senter atau penlight
  6. Catether tip ukuran 50cc
  7. Plester / hypavix
  8. Stetoskop
  9. Tissue kering
 
PROSEDUR PEMASANGAN NGT (NASO GASTRIK TUBE)
  1. Mendekatkan alat ke samping klien.
  2. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan tujuannya.
  3. Membantu klien pada posisi terlentang - semi fowler.
  4. Mencuci tangan.
  5. Periksa kepatenan nasal. Minta pasien untuk bernapas melalui satu lubang hidung saat lubang yang lain tersumbat, ulangi pada lubang hidung yang lain, bersihkan mucus dan sekresi dari hidung dengan kassa/lidi kapas. Periksa adanya infeksi.
  6. Memakai sarung tangan bersih.
  7. Buka kemasan selang NGT.
  8. Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan cara menempatkan ujung selang dari hidung klien ke ujung telinga atas lalu dilanjutkan sampai processus xipodeus.
  9. Beri tanda pada selang yang telah diukur dengan plester.
  10. Beri jelly pada NGT sepanjang 10-20 cm dari ujung selang tersebut.
  11. Meminta klien untuk rileks dan bernapas normal. Masukkan selang perlahan sepanjang 5-10cm. Meminta klien untuk menundukkan kepala (fleksi) sambil menelan.
  12. Masukkan selang sampai batas yang ditandai.
  13. Jangan memasukkan selang secara paksa bila ada tahanan.
a.      Jika klien batuk, bersin, hentikan dahulu lalu ulangi lagi. Anjurkan klien untuk tarik napas dalam.
b.      Jika tetap ada tahanan, menarik selang perlahan-lahan dan masukkan ke hidung yang lain kemudian masukkan kembali secara perlahan
c.  Jika klien terlihat akan muntah, menarik tube dan menginspeksi tenggorokan lalu melanjutkan memasukkan selang secara bertahap.
    15. Mengecek kepatenan
a.    Masukkan ujung pipa sampai dengan terendam dalam mangkok berisi air, klem dibuka jika ternyata sonde masuk dalam lambung maka ditandai dengan tidak adanyagelembung udara yang keluar.
b.   Masukkan udara denga spuit 2-3 cc ke dalam lambung sambil mendengarkan dengan stetoskop. Bila terdengar bunyi kemudian udara dikeluarkan kembali dengan menarik spuit.
    16. Pasang spuit/corong pada pangkal pipa apabila sudah yakin pipa masuk lambung
1        17. Memfiksasi selang pada hidung dengan plester
          18. Membantu klien mengatur posisi yang nyaman
          19. Merapikan dan membereskan alat
          20. Melepas sarung tangan
2        21. Mencuci tangan
 
Tahap Terminasi Pada SOP Pemasangan NGT
  1. Mengevaluasi respon klien
  2. Dokumentasian tindakan dan hasil.

Rabu, 01 Maret 2017

SOP & CARA VERBEDEN (GANTI LAKEN) DENGAN PASIEN DIATASNYA


PENGERTIAN VERBEDEN
Merupakan suatu tindakan / keterampilan keperawatan yang biasa dilakukan sehari-hari yaitu mengganti linen (verbeden) dengan situasi / kondisi pasien tetap berada diatas tempat tidur.

TUJUAN DARI VERBEDEN
  1. Memberikan kesan rapi pada tempat tidur pasien. 
  2. Mengurangi resiko infeksi. 
  3. Menjaga kebersihan pasien dan ruangan.

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN KEPERAWATAN VERBEDEN
1. Persiapan Alat : 
  • Alat tenun (linen) bersih disusun berdasarkan pemakaiannya : laken, stik laken, perlak, sarung bantal, selimut. 
  • Kursi atau bangku  
  • Tempat kain kotor yang tertutup 
  • Alat semprot yang berisi cairan desinfektan, contohnya terralin  
  • Lap kerja 2 buah
2. Persiapan Pasien : 
  • Pasien pada posisi terlentang di atas tempat tidur  
  • Jelaskan pada pasien prosedur yang akan di lakukan 

3. Persiapan Tempat : 
Ruangan rawat inap yang sesuai 

PROSEDUR PENGGANTIAN LINEN DENGAN PASIEN DITEMPAT TIDUR
  1. Cuci tangan  
  2. Meletakkan alat yang telah di siapkan ke dekat pasien  
  3. Bersihkan rangka tempat tidur  
  4. Letakkan selimut dan bantal pasien yang tidak perlu ke atas kursi (jika tidak mengganggu pasien)  
  5. Miringkan pasien ke satu sisi (bila perlu ganjal satu sisi supaya tidak jatuh)  
  6. Lepas alat tenun pada bagian yang kosong dari bawah kasur lalu gulung satu persatu sampain dengan di bawah punggung pasien. Gulung stik laken ke tengah tempat tidur sampai sejauh mungkin. Bersihkan perlak dengan larutan desinfektan dan keringkan lalu gulung ke tengah tempat tidur sejauh mungkin gulung laken atau sprei besar ke tengah tempat tidur sejauh mungkin  
  7. Bersihkan alas tempat tidur dan kasur dengan lap lembab yang disemprot larutan terralin, lalu lap kembali dengan lap kering  
  8. Bentangkan sprei besar bersih kering dan gulung setengah bagian, letakkan setengah gulungannya di bawah punggung pasien, ratakan setengah bagian lagi kemudian pasangkan di bawah kasur  
  9. Gulung perlak dan ratakan lagi  
  10. Bentangkan stik laken bersih di atas perlak. Gulung setengah bagian dan letakkan di bawah punggung pasien, ratakan setengah lagi di atas perlak, lalu masukkan ke bawah kasur bersama dengan perlak  
  11. Setelah selesai dan rapikan pada salah satu bagian, miringkan pasien kearah yang berlawanan yang tadi telah di bersihkan (ganjal dengan bantal supaya tidak jatuh)  
  12. Lepas alat tenun yang kotor dari bawah kasur  
  13. Angkat stik laken dan masukkan pada tempat kain kotor  
  14. Bersihkan perlak kemudian di gulung ke tengah  
  15. Lepas laken kotor kemudian letakkan pada tempat kain kotor  
  16. Bersihkan alas tempat tidur dan kasur  
  17. Buka gulungan laken dari bawah punggung pasien, tarik dan ratakan setegang mungkin kemudian masukkan ke bawah kasur  
  18. Pasang perlak dan spraei seperti tadi  
  19. Lepas sarung bantal dan guling yang kotor, ratakan isinya kemudian pasang sarung yang bersih   
  20. Susun bantal, lalu baringkan kembali pasien pada posisi yang nyaman  
  21. Ganti selimut kotor dengan yang bersih  
  22. Bereskan alat-alat dan kembalikan pada tempatnya 

EVALUASI 
1. Dokumentasikan hasil tindakan 
2. Merapikan pasien 
3. Cuci tangan

Rabu, 22 Februari 2017

SOP / Cara Memasang Infus

Pengertian    :

Pemasaangan infus merupakan prosedur pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit yang dilakukan bagi klien yang memerlukan cairan melalui intravena (infus). Nutrisi bagi klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi per oral atau adanya gangguan fungsi menelan, Tindakan ini dilakukan dengan didahului pemasangan pipa lambung.

Tujuan        :
  1. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
  2. Infus pengobatan dan pemberian nutrisi.

Kebijakan    :

Alat dan bahan:
  1. Standar Infus.
  2. Set infus.
  3. Cairan sesuai program medik
  4. Jarum infus dengan ukuran yang sesuai.
  5. Pengalas.
  6. Torniket.
  7. Kapas alkohol.
  8. Plester.
  9. Gunting.
  10. Kasa steril
  11. Betadine
  12. Sarung tangan.

Prosedur        :

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  2. Cuci tangan
  3. Hubungkan cairan dan infus set dengan mnusukkan ke bagian karet atau akses selang ke botol infus.
  4. Isi cairan ke dalam set infus dengan menekan ruang tetesan hingga terisi sebagian dan buka klem selang hingga cairan memenuhi selang dan udara selang keluar.
  5. Letakkan pengalas di bawah tempat (vena) yang akan dilakukan penginfusan.
  6. Lakukan pembendungan dengan torniket (karet pembendung) 10 – 12 cmdiatas tempat penusukan dan anurkan pasien untuk menggemgam dengan gerakan sirkular (bila sadar).
  7. Gunakan sarung tangan steril.
  8. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas alkohol.
  9. Lakukan penusukan pada vena dengan meletakkan ibu jari dibagian bawah vena dan posisi jarum (abocath) mengarah ke atas.
  10. Perhatikan keluarnya darah melalui jaru (abocath/surflo) maka tarik keluar bagian dalam (jarum) sambil meneruskan tusukan ke dalam vena.
  11. Setelah jarum infus bagian dalam dilepaskan/dikeluarkan, tahan bagian atas vena dengan menekan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar. Kemudian bagian infus dihubungkan/disambungkan dengan selang infus.
  12. Buka pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dengan dosis yang diberikan.
  13. Lakukan fiksasi dengan kasa steril.
  14. Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan infus serta catat ukuran jarum.
  15. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan.
  16. Catat jenis cairan, letak infus, kecepatan aliran, ukuran dan tipe jarum infus.

Senin, 16 Januari 2017

SOP PERSIAPAN PASIEN UNTUK PEMERIKSAAN CT SCAN



PENGERTIAN
Computerized Tomography (CT Scan) adalah suatu pemeriksaan diagnostik non invasif lapis demim lapis organ dengan menggunakan x-rays; komputer menggunakan informasi yang diperoleh untuk menyusun gambar dari struktur internal organ. Kadang-kadang pemeriksan ini menggunakan medium kontras.
  
TUJUAN
1.      Untuk mendeteksi lesi.
2.      Untuk memonitor dampak operasi atau terapi.
3.      Untuk menegakkan diagnose medis
4.      Untuk mengetahui penyebab penyakit

PERSIAPAN

A.  Persiapan Alat :
1.   Status atau rekam medik klien.
2.   Hasil pemeriksaan diagnostik sebelumnya.
3.   Formulir pesanan pemeriksaan CT Scan.

B.  Persiapan Klien :
1.   Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang tujuan dan prosedur yang akan dilakukan.
2.   Menjelaskan kepada klien untuk tetap berbaring seama prosedur pemeriksaan.

PROSEDUR
1.    Memastikan kelengkapan administrasi klien.
2.    Memastikan kesiapan klien untuk prosedur pemeriksaan.
3.    Mengantar klien ke bagian CT Scan.
4.    Mencuci tangan.

EVALUASI
Mengevaluasi respon klien terhadap prosedur pemeriksaan, terutama bila menggunakan zat kontras.

DOKUMENTASI
1.    Mencatat tanggal dan waktu pemeriksaan.
2.    Mencatat respon klien sesudah prosedur pemeriksaan.