Tampilkan postingan dengan label SOP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2020

SOP Pemeriksaan Denyut Jantung Janin (DJJ)



PEMERIKSAAN DENYUT JANTUNG JANIN (DJJ)
PADA IBU HAMIL DENGAN KARDIOMIOPATI (PPCM)


A.      FASE PRA INTERAKSI
1.      Melakukan verifikasi data
2.      Menyiapkan alat meliputi: stetoskop pinard, USG Doppler, jelly dan sarung tangan
B.       FASE ORIENTASI
1.    Mengucapkan salam
2.    Memperkenalkan diri
3.    Menjelaskan tujuan tindakan dan prosedur
4.    Melakukan kontrak waktu dan tempat
5.    Mencuci tangan
C.      FASE KERJA
1.    Menjaga privacy pasien
2.    Mengatur posisi pasien : Supinasi
3.    Membebaskan daerah abdomen dari pakaian
4.    Pemeriksaan DJJ
a.       Cara  Mendengarkan Denyut  Jantung  Janin
1)      Dengan menggunakan Stetoskop Pinard
Tentukan letak punggung janin untuk mencari daerah atau tempat denyut jantung janin. Setelah daerah ditemukan, stetoskop pinard digunakan dengan bagian yang berlubang luas ditempatkan menempel perut ibu, sedangkan bagian yang lubangnya sempit ditempatkan pada telinga kita, letakkan tegak lurus. Bila terdengar suatu detak, maka untuk memastikan apakah yang terdengar itu denyut jantung janin, detak ini harus disesuaikan dengan detak nadi ibu. Bila detakkan itu sama dengan nadi ibu, yang terdengar bukan jantung janin, tetapi detak aorta abdominalis dari ibu. Setelah nyata bahwa yang terdengar itu betul-betul denyut jantung janin maka dihitung untuk mengetahui teraturnya dan frekuensinya denyut jantung janin itu.
2)      Dengan menggunakan Doppler
a)        Nyalakan doppler, untuk memeriksa apakah doppler dapat digunakan.
b)        Usapkan jelly pada abdomen ibu, tepat pada daerah yang telah ditentukan. Kegunaan jelly adalah sebagai kontak kedap udaraantara kulit abdomen dengan permukaan sensor.
c)        Tempatkan sensor pada daerah yang akan didengarkan, kemudian tekan tombol start untuk mendengarkan denyut jantung janin.
d)        Lakukan penyesuaian volume seperlunya denganmenggunakan tombol pengatur volume.
e)        Lihat denyut jantung janin pada angka yang ditujukan melalui monitor.
b.      Cara menghitung denyut jantung janin
Menghitung denyut jantung janin yaitu selama satu menit penuh. Hal ini dikarenakan pada setiap detik itu terdapat perbedaan denyut serta membandingkan dengan rentang normal selama satu menit.
c.       Hal yang dapat diketahui dalam pemeriksaan DJJ
1)      Dari adanya denyut jantung janin:
a)        Tanda pasti kehamilan
b)        Anak hidup
2)      Dari tempat denyut jantung janin terdengar
a)      Presentasi janin
b)      Posisi janin (kedudukan punggung)
c)      Sikap janin
d)      Adanya janin kembar
3)      Dari sifat denyut jantung janin: untuk mengetahui keadaan janin
d.      Bunyi yang sering terdengar ketika memeriksa denyut jantung janin
1)      Desir tali pusat
Disebabkan semburan darah melalui arteri umbilikalis. Suara ini terdengar seperti siulan nyaring yang sinkron dengan denyut jantung janin. Suara ini tidak konstan, kadang kadang terdengar jelas ketika diperiksa pada suatu waktu namun pada pemeriksaan di area lain tidak terdengar.
2)      Desir uterus
Terdengar sebagai suara hembusan lembut yang singkron dengan denyut ibu. Bunyi ini biasanya paling jelas terdengar saat auskultasi segmen bawah uterus. Suara ini  dihasilkan oleh pasase darah melalui pembuluh-pembuluh uterus yang berdilatasi dan dijumpai tidak saja pada kehamilan tetapi juga pada setiap keadaan yang menyebabkan aliran darah ke uterus meningkat, hingga pengaliran darah menjadi luas.
3)      Suara akibat gerakan janin
Suara gerakan ini seperti suara pukulan, dikarenakan janin mendapat reaksi dari luar.
4)      Gerakan usus
Suara ini seperti berkumur-kumur, dihasilkan oleh berjalannya gas atau cairan melalui usus ibu.
e.       Frekuensi Denyut Jantung Janin
1)      Bradikardi
Frekuensi denyut jantung janin yang kurang dari 110 denyut/menit. Keadaan ini dianggap sebagai tanda akhir hipoksia janin. Penyebabnya:
a)      Hipoksia janin tahap lanjut
b)      Obat-obatan beta-adrenergetik (propanolol; anestik untuk blok epidural, spinal, kaudal, dan pudendal)
c)      Hipotensi pada ibu
d)      Kompresi tali pusat yang lama
e)      Blok jantung congenital pada janin
2)      Takikardia
Frekuensi denyut jantung janin yang lebih dari 160 denyut/menit. Keadaan ini dianggap sebagai tanda awal hipoksia janin. Penyebabnya:
a)        Hipoksia janin dini
b)        Demam pada ibu
c)        Obat-obatan parasimpatik (atropine, hidroksizin)
d)        Obat-obatan Beta-simpatomimetik (ritrodon,isoksuprin)
e)        Amnionitis
f)         Hipertiroid pada ibu
g)        Anemia pada janin
h)        Gagal jantung pada janin
i)          Aritma jantung pada janin
3)      Variabilitas
Variabilitas denyut jantung janin digambarkan sebagai ketidakteraturan irama jantung normal. Variabilitas denyut demi denyut normal dianggap antara 16 dan 25 denyut/menit. Variabilitas jangka pendek yaitu ketidaksamaan satu denyut dengan denyut berikutnya. Variabilitas jangka panjang yaitu tampak sebagai siklus ritmik atau gelombang dasar dan biasanya terdapat tiga sampai lima siklus permenit.
Penyebab variabilitas meningkat:
a)        Hipoksia ringan dini
b)        Stimulasi janin oleh palpasi rahim, kontraksi rahim, aktivitas janin, dan aktivitas ibu.
Penyebab variabilitas menurun:
a)        Hipoksia atau asidosis
b)        Depresi system saraf pusat oleh obat-obatan tertentu
c)        Prematuritas
d)        Siklus tidur janin
e)        Aritma jantung janin
D.      FASE TERMINASI
  1. Merapikan pasien
  2. Melakukan evaluasi tindakan
  3. Merapikan alat
  4. Mencuci tangan
  5. Dokumentasi














Selasa, 04 Juli 2017

SOP Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)

Definisi / Pengertian Water Seal Drainage (WSD)
WSD adalah merupakan suatu tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan baik darah atau pus dari rongga pleura ataupun rongga thorax (mediastinum) dengan menggunakan selang penghubung dari rongga ke botol WSD.


Tujuan dari Tindakan Pemasangan WSD
- Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak
- Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
- Mengembangkan kembali paru yang kolaps
- Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada
- Mengembalikan fungsi paru yaitu “mechanis of breathing”


Tipe atau Sistem WSD
A. WSD dengan sistem satu botol
  1. Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks.
  2. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol.
  3. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang bisa menyebabkan kolaps paru.
  4. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar.
  5. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi.
  6. Undulasi (gelembung udara) pada selang cairan mengikuti irama pernafasan yaitu saat :
  • Inspirasi akan meningkat
  • Ekpirasi menurun
B. WSD dengan Sistem 2 Botol
  1. Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol water seal.
  2. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal.
  3. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2.
  4. Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD Bisasanya digunakan untuk mengatasi adanya cairan dan udara pada rongga dan pada efusi pleura.
C. WSD dengan Sistem 3 Botol
  1. Sama dengan sistem 2 botol,hanya ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan.
  2. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan.
  3. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3.
  4. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD.
  5. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan.
  6. Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
  • Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua
  • Tube pendek lain dihubungkan dengan suction
  • Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer

Jenis Pemasangan atau Lokasi Penempatan Selang WSD

1. Pleuren Tube:
Adalah digunakan untuk mengeluarkan cairan / udara dari rongga pleura, untuk mengembalikan tekanan negative intra pleura, memungkinkan terjadinya ekspansi paru setelah adanya cairan transudat (infeksi) dan eksudat (trauma).
  1. Area pemasangan tube pada pleura yaitu pada: Bagian apex paru (apical), Interolateral interkosta ke 1-2.
  2. Fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
  3. Bagian basal: Postero lateral interkosta ke 8-9
  4. Fungsi : untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura
2. Mediastinal Tube :
Adalah digunakan untuk mengalirkan cairan dari rongga mediatinum setelah operasi jantung atau operasi lain di mediastinum.


Indikasi Pemasangan WSD
1. Pneumothoraks :
  • Spontan > 20% oleh karena rupture bleb
  • Luka tusuk tembus
  • Kerusakan selang dada pada sistem drainase
2. Hemopthorak:
  • Robekan pleura/trauma
  • Kelebihan antikoagulan
  • Pasca bedah thorak (Thorakotomy)
3. Efusi pleura: penumpukan cairan non fisiologis yang berlebih
4. Emfisema: ketidak elastisan paru karena penyakit obstruktif.


Komplikasi Pemasangan WSD
• Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia
• Komplikasi sekunder : infeksi


Persiapan Tindakan WSD
a. Pengkajian Pasien
- Memeriksa kembali instruksi dokter
- Mengecek inform consent
- Mengkaji status pasien; TTV dan status pernafasan

b. Persiapan Pasien
1. Siapkan pasien
2. Memberi penjelasan kepada pasien mencakup :
  • Tujuan tindakan
  • Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD: Posisi klien dapat duduk atau berbaring
  • Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam, distraksi
  • Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena
c. Persiapan alat
  • Sistem drainage tertutup
  • Motor suction
  • Slang penghubung steril
  • Botol berwarna putih/bening dengan kapasitas 2 liter, bistury/silet, trokart, cairan antiseptic, benang catgut dan jarumnya, duk bolong, sarung tangan, spuit 10cc dan 50cc, kassa.
  • NACl 0,9%, konektor, set balutan, obat anestesi (lidokain, xylokain), masker
d. Pelaksanaan
Prosedur ini dilakukan oleh dokter. Perawat membantu agar prosedur dapat dilaksanakan dengan
baik , dan perawat memberikan dukungan moril pada pasien.

Cara Pemasangan WSD (Oleh Dokter Spesialis Pulmonologi) :
  1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea aksillaris anterior dan media.
  2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.
  3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai muskulus interkostalis.
  4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan.
  5. Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga pleura / menyentuh paru.
  6. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat dengan menggunakan Kelly forceps.
  7. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke dinding dada.
  8. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.
  9. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.
  10. Tindakan perawatan pasca pemasangan WSD.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Selama Pemasangan WSD :
1. Perhatikan undulasi pada selang WSD, bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi dapat terjadi antara lain :
  • Motor suction tidak berjalan
  • Selang tersumbat
  • Selang terlipat
  • Paru-paru telah mengembang
  • Oleh karena itu, yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi sistem drainage,
2. Amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
3. Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar.
4. Cek batas cairan seal dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas yang telah ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah air.
5. Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui jumlah cairan yg keluar.
6. Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama.
7. Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan.
8. Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan sampai selang terlipat.
9. Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi.
10. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu.
11. Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah cairan yang dibuang.
12. Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran.
13. Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis, emphysema subkutan.
14. Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk efektif.
15. Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh.
16. Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD.
17. Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD.

Minggu, 22 Mei 2016

SOP Radiologi: Cara & Tekhnik Foto / Pemeriksaan Knee Joint (Lutut)


Dalam melakukan pemeriksaan radiografi knee joint memerlukan beberapa proyeksi yaitu Proyeksi Antero Posterior (Proyeksi AP), Proyeksi Postero Anterior (Proyeksi PA), Proyeksi Lateral (Proyeksi Mediolateral), Proyeksi Antero Posterior Weight Bearing, Proyeksi Antero Posterior Oblique, Proyeksi Postero Anterior Weight Bearing, dan Proyeksi Postero Anterior Oblique. (Ballinger, 2007)
Dalam pemeriksaan knee Joint tidak diperlukan  persiapan khusus, karena tidak menggunakan media kontras sebelum dilakukan pemeriksaan. Penderita dianjurkan untuk menaikkan celananya, melepas deker yang dipasang dilututnya, dan benda lain yang berada di knee joint agar tidak menimbulkan bayangan yang mengganggu radiograf.
Teknik radiografi knee joint ada berbagai macam proyeksi yaitu :
1.      PROYEKSI ANTERO POSTERIOR (PROYEKSI AP)
Gambar radiograf dari knee joint dapat dibuat dengan atau tanpa menggunakan grid. Ukuran knee pasien, keputusan radiografer dan dokter adalah faktor yang dipertimbangkan untuk mencapai keputusan.
Perhatian kembali diperlukan untukperlindungan organ gonad dalam pemeriksaan ekstremitas bawah. (apron  tidak ditunjukkan dalam ilustrasi model karena akan menghalangi posisi tubuh yang ditunjukkan)

Gambar IIC.1 Posisi Knee untuk  Proyeksi Antero Posterior (CLARK, 2005)

a.       Image Receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
Pasien diatur dalam posisi supine, dan atur  tubuh sehingga pelvis tidak mengalami rotasi.
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Letakkan IR berada di bawah knee pasien, sedikit fleksikan sendi, tempatkan apex patella, dan luruskan knee  pasien, atur ½ inchi (1,3 cm) bawah apex patella di pertengahan kaset. Ini akan menempatkan ruang sendi di pertengahan kaset.
2)      Atur kaki pasien dengan  meletakkan femoral epicondyles parallel terhadap kaset agar true AP. Patella sedikit menempel ke sisi medial. Jika knee tidak bisa full ekstensi, membengkokkan kaset mungkin diperlukan.
3)      Gonad shield
d.      Central Ray (CR)
1)      Diarahkan pada titik ½ inchi (1,3 cm) inferior apex patella.
2)      Berdasarkan pada pengukuran antara anterior superior iliac spine (ASIS) dan permukaan atas meja, sebagai berikut :
< 19 cm
30 sampai 50 caudad (pelvis kurus)
19 sampai 24 cm
00
>24 cm
30 sampai 50 cephalad (pelvis gemuk)





Gambar IIC.2 Ketebalan  pelvis dan sudut central ray untuk radiografi Knee Antero Posterior (Ballinger, 2007)
e.       Kriteria Radiograf

Gambar IIC.3 Gambar Radiograf Antero Posterior Knee Joint Normal (CLARK, 2005)
1)      Struktur yang terlihat
a)      Distal femur dan proksimal tibia dan fibula terlihat
b)      Ruang femorotibial joint terbuka, dengan articular facets tibia terlihat di akhir dengan visualisasi area permukaan yang minimalis.
2)      Posisi
a)      Tidak ada rotasi dibuktikan dengan tibial condyles dan ruang sendinya simetris.
b)      Kira-kira setengah dari pertengahan caput fibula superposisi dengan tibia.
c)      Intercondylar eminence terlihat di pertengahan intercondylar fossa.
3)      Kolimasi dan CR
a)      Lapangan kolimasi lurus dengan poros panjang IR.
b)      Pertengahan lapangan kolimasi berada di pertengahan knee joint.
4)      Kriteria eksposi
a)      Eksposi yang optimal akan menampakkan garis tepi patella pada sistal femur, dan caput fibula dan leher fibula tidak terlihat overeksposi.
b)      Tidak ada pergerakan, trabekula tulang tampak dan tajam
c)      Tampak soft tissue

2.      PROYEKSI POSTERO ANTERIOR (PROYEKSI PA)

Gambar IIC.4 Posisi Knee untuk Proyeksi Postero Anterior (Ballinger, 2007)

a.       Image receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
Atur pasien prone dengan jari kaki diistirahatkan diatas meja pemeriksaan, atau letakkan sandbag dibawah ankle untuk fiksasi.
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Letakkan ½ inchi (1,3 cm) bawah apex patella pada pertengahan IR, dan atur kaki pasien sehingga femoral epicondyles parallel dengan permukaan atas meja pemeriksaan
2)      Gonad shield
d.      Central Ray (CR)
Diarahkan dengan sudut 50 caudad keluar dari titik ½ inchi (1,3 cm) inferior apex patella. Karena tibia dan fibula sedikit condong, central ray akan parallel dengan tibial plateau.
e.       Kriteria Radiograf

Gambar IIC.5 Gambaran Radiograf Knee Joint Normal pada Proyeksi Postero Anterior (Ballinger, 2007)

1)      Struktur yang ditunjukkan
Knee joint dan patella terlihat dengan detail patella yang optimal karena penurunan Object Image Distance (OID) jika dibuat dengan proyeksi Postero Anterior (PA).
2)      Posisi
a)      Tidak ada rotasi ditandai dengan condyles tampak simetris.
b)      Patella berada di pertengahan femur dengan anterior knee sedikit rotasi internal.
3)      Kolimasi dan CR
Pertengahan dan  penyudutan benar jika knee joint terbuka dan patella berada di pertengahan bidang kolimasi.
4)      Kriteria Eksposi
Eksposi optimal tanpa pergerakan akan memperlihatkan soft tissue di area sendi dan juga terlihat jelas ketajaman trabekula tulang dan garis tepi parela yang terlihat pada distal femur.

3.      PROYEKSI LATERAL (MEDIOLATERAL)
 Gambar IIC.6 Posisi Knee untuk Proyeksi Lateral (Mediolateral) (CLARK,2005)

a.      Image Receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
1)      Atur pasien untuk memutar badan ke sisi yang sakit. Pastikan bahwa pelvis tidak mengalami rotasi
2)      Untuk proyeksi lateral standar, atur pasien untuk meletakkan knee di depan dan luruskan knee yang tidak diperiksa di belakangnya. Knee yang lain dapat ditempatkan di depan knee yang sakit untuk fiksasi.
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Memfleksikan 200 hingga 300 biasanya lebih digunakan karena posisi ini merelaksasi otot dan menunjukkan volume maksimal dari rongga sendi.
2)      Untuk mencegah celah fragmen dalam fraktur patela baru atau belum sembuh, knee tidak harus di feksikan lebih dari 100.
3)      Letakkan fiksasi dibawah ankle.
4)      Pegang epicondilus dan tambahkan fiksasi sehingga dapat tegak lurus dengan kaset (condylus superposisi). Patella akan tegak lurus dengan kaset.
5)      Gonad shield.
d.      Central Ray (CR)
1)      Diarahkan menuju knee joint 1 inchi (2,5 cm) distal ke medial epicondyles pada sudut 50 hingga 70 cephalad.
2)      Sedikit penyudutan central ray akan mencegah  ruang sendi menjadi tidak jelas karena magnifikasi gambar dari medial femoral condyles. Sebagai tambahan, pada posisi lateral recumbent, medial condyles akan sedikit ke inferior terhadap lateral condyles.
3)      Central ray jatuh di pertengah IR.
e.      Kriteria Radiograf

Gambar IIC.7 Gambaran Radiograf Knee Joint pada Proyeksi Lateral (Mediolateral) Normal (CLARK, 2005)

Gambar IIC.8 Gambaran Radiograf Knee Joint Osteoarthritis pada Proyeksi Lateral (Mediolateral) (Ballinger, 2007)

1)      Struktur yang terlihat
a)      Distal femur, proksimal tibia dan fibula, dan  patella terlihat dalam posisi lateral
b)      Femoropatellar dan  knee joint terbuka
2)      Posisi
a)      Overrotasi atau underrotasi dapat dilihat dengan identifikasi adductor tubercle pada medial condyle, jika memungkinkan dan superposisi caput fibula dengan tibia. (overrotasi, sedikit superposisi caput fibula; underrotasi, lebih superposisi)
b)      True lateral knee tanpa rotasi  tampak  dengan posterior border dari femoral condyles superposisi.
c)      Patella tampak dengan  ruang femoropatellar joint membuka.
3)      Kolimasi dan CR
a)      Sudut CR 50 hingga 100 cephalad dihasilkan dalam superposisi langsung distal border condyles.
b)      Knee joint berada di pertengahan lapangan  kolimasi. Meminimalkan kolimasi. Terlihat soft tissue.
4)      Kriteria eksposi
Eksposi yang optimal tanpa pergerakan akan  menampakkan detail soft tissue, termasuk lapisan lemak anterior knee joint dan trabekula yang tajam.

4.      PROYEKSI ANTERIOR POSTERIOR OBLIQUE (PROYEKSI AP OBLIQUE)
Rotasi Ke Arah Lateral
Gambar IIC.9 Posisi Knee untuk Proyeksi Antero Posterior Oblique kearah lateral (Ballinger, 2007)

a.      Image receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
Atur  pasien supine diatas meja pemeriksaan dan beri fiksasi pada ankle joint.
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Jika diperlukan, angkat hip joint pada sisi yang tidak sakit untuk merotasikan bagian yang sakit.
2)      Beri fiksasi pada hip yang diangkat dan knee pada bagian yang tidak sakit.
3)      ½ inchi (1,3 cm) bawah apex patella berada di pertengahan IR
4)      Rotasikan eksternal bagian yang sakit sebesar 450.
5)      Gonad shield
d.      Central Ray (CR)
Diarahkan pada ½ inchi (1,3 cm) inferior apex patella. Sudutnya bervariasi, tergantung pengukuran antara ASIS dan  meja pemeriksaan, seperti :
< 19 cm
30 hingga 50 caudad
19 hingga 24 cm
00
>24 cm
30 hingga 50 cephalad
e.      Kriteria Radiograf
 Gambar IIC.10  Gambaran Radiograf Knee Joint Normal pada Proyeksi Antero Posterior Oblique ke arah lateral (Ballinger, 2007)

1)      Struktur yang terlihat
a)      Terlihat distal femur dan proksimal tibia dan fibula superposisi dengan femoral condyles lateral.
b)      Medial condyles femur dan tibia ditunjukkan dengan baik, dan medial dan lateral ruang sendi tampak tidak sama
2)      Posisi
a)      Objek dalam posisi oblique ditunjukkan dengan proksimal fibula superposisi dengan proksimal tibia, medial condyles femur dan tibia terlihat pada hasil radiograf.
b)      Kira-kira setengah patella bebas superposisi dengan femur
3)      Kolimasi dan CR
Ruang knee joint berada di pertengahan CR dan luas lapangan kolimasi.
4)      Kriteria Eksposi
a)      Eksposi yang optimal tanpa pergerakan terlihat dengan tampaknya soft tissue di area knee joint, dan trabekula tulang terlihat jelas dan tajam. Mengindikasikan tidak ada pergerakan.
b)      Teknik harus cukup untuk menunjukkan caput dan leher fibula supeimposisi dengan tibia.

5.      PROYEKSI ANTERO POSTERIOR OBLIQUE (PROYEKSI AP OBLIQUE)
Rotasi Ke Arah Medial

Gambar IIC.11 Posisi Knee untuk Proyeksi Antero Posterior Oblique ke arah medial (Ballinger, 2007)
a.       Image Receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
Pasien supine diatas meja pemeriksaan, beri fiksasi pada ankle joint.
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Rotasikan bagian yang sakit ke arah medial dan angkat sedikit hip di bagian yang sakit untuk rotasi sebesar 450.
2)      Letakkan fiksasi dibawah hip, jika dibutuhkan.
3)      Gonad shield
d.      Central Ray (CR)
Diarahkan pada ½ inchi (1,3 cm) inferior apex patella. Sudutnya bervariasi, tergantung pengukuran antara ASIS dan  meja pemeriksaan, seperti :
< 19 cm
30 hingga 50 caudad
19 hingga 24 cm
00
>24 cm
30 hingga 50 cephalad
e.       Kriteria Radiograf

Gambar IIC.12 Gambaran Radiograf Knee Joint Normal pada Proyeksi Antero Posterior Oblique ke arah medial (Ballinger, 2007)

1)      Struktur yang terlihat
a)      Terlihat distal femur dan proksimal tibia dan fibula superposisi dengan femoral condyles medial.
b)      Lateral condyles femur dan tibia ditunjukkan dengan baik, dan medial dan lateral ruang sendi tampak tidak sama
2)      Posisi
a)      Objek dalam posisi oblique ditunjukkan dengan proksimal persendian tibiofibular  terbuka dengan lateral condyles femur dan tibia terlihat pada hasil.
b)      Caput dan leher fibula tidak superposisi dan kira-kira setengah patella bebas superposisi dengan femur
3)      Kolimasi dan CR
Ruang knee joint berada di pertengahan CR dan luas lapangan kolimasi.
4)      Kriteria Eksposi
Eksposi yang optimal tanpa pergerakan terlihat dengan tampaknya soft tissue di area knee joint, dan trabekula tulang terlihat jelas dan tajam. Caput dan leher fibula tidak overekspos.

6.      PROYEKSI ANTERO POSTERIOR WEIGHT BEARING
Berdiri

Gambar IIC.13 Posisi Knee untuk Proyeksi Antero Posterior Weight Bearing (Ballinger, 2007)
Leach, Gregg, dan siber merekomendasikan bahwa proyeksi weight bearing Antero Posterior bilateral akan lebih sering digunakan di pemeriksaan radiografi pada arthtritic knees. Mereka menemukan bahwa weight bearing mempelajari tentang pembatasan ruang sendi yang terlihat normal dalam pembelajaran non weight bearing
a.       Image receptor (IR) : 35 x 43 cm membujur untuk gambar bilateral.
b.      Posisi Pasien (PP)
Tempatkan pasien dalam posisi tegak dengan bagian belakang menempel grid vertical.
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Atur posisi knee pasien di pertengahan IR.
2)      Letakkan jari-jari kaki lurus didepan, dengan kaki diberi sedikit jarak untuk keseimbangan.
3)      Minta pasien untuk berdiri lurus dengan knee full ekstensi dan lebar sama besar pada kaki.
4)      ½ inchi (1,3 cm) bawah permukaan patella terletak di pertengan IR.
5)      Gonad shield.
d.      Central Ray (CR)
Horizontal dan tegak lurus dengan pertengahan IR, memasuki titik ½ inchi (1,3 cm) bawah apex patella.
e.       Kriteria Radiograf

Gambar IIC.14 Gambaran Radiograf Knee Joint Normal dan Knee Joint dengan pen pada Proyeksi Antero Posterior Weight Bearing (Ballinger, 2007)

1)      Struktur yang terlihat
Tampak distal femur, proksimal tibia, dan dibula dan ruang femirotibial joint terlihat bilateral.
2)      Posisi
a)      Tidak ada rotasi antara kedua knee terlihat dari femoral dan tibial condyles simetris.
b)      Sedikit bagian proksimal fibula superposisi dengan tibia.
3)      Kolimasi dan CR
a)      Ruang knee joint terlihat terbuka jika sudut CR benar (parallel dengan tibial plateau)
b)      Lapangan kolimasi harus berada di tengah ruang knee joint dan sedikit femur untuk menentukan poros panjang dari tulang panjang untuk ketetapan penjajaran.
4)      Kriteria eksposi
a)      Eksposi yang optimal harus menampakkan garis tepi patella pada femur
b)      Soft tissue terlihat, tampak trabekula tulang yang tajam, mengindikasikan tidak ada pergerakan.

7.    PROYEKSI POSTERO ANTERIOR WEIGHT BEARING (ROSENBERG METHOD)
Berdiri Fleksi

Gambar IIC.15 Posisi Knee untuk Proyeksi Postero Anterior Weight Bearing (Rosenberg Method) (Ballinger, 2007)

a.       Image receptor (IR) : 35 x 43 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
Pasien berdiri dengan aspek anterior knee berada di pertengahan grid vertical
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Untuk proyeksi PA, pasien berdiri dengan kedua knee menempel di grid vertical.
2)      Pertengahan kaset berada pada ½ inchi (1,3 cm) bawah apicies patella.
3)      Pasien menggenggam tepi grid dan knee difleksikan untuk menempatkan femur pada sudut 450
4)      Gonad shield
d.      Central Ray (CR)
Horizontal dan tegak lurus terhadap petengahan kaset. CR tegak lurus dengan tibial dan fibula. Biasanya juga menggunakan sudut 100 caudal.
e.       Kriteria radiograf

Gambar IIC.16 Gambaran Radiograf Knee Joint Normal pada Proyeksi Postero Anterior Weight Bearing (Rosenberg Method) (Ballinger, 2007)

1)      Struktur yang ditunjukkan
Distal femur, proksimal tibia, dan fibula, ruang femorotibial joint, dan intecondylar fossa terlihat bilateral atau unilateral.
2)      Struktur Posisi
a)      Tidak ada rotasi kedua knee terlihat jelas dengan femoral dan tibial condyles simetris.
b)      Intercondylar fossa terbuka
3)      Kolimasi dan CR
a)      Ruang knee joint tampak terbuka jika sudut CR benar dan tibia difleksikan 450.
b)      Ruang knee joint berada di pertengahan kolimasi.
4)      Kriteria Eksposi
a)      Eksposi yang optimal memperlihatkan intercondylar fossa dan proksimal tibia dengan runag sendi yang membuka.
b)      Trabekula tulang tampak jelas dan tajam, mengindikasikan tidak ada pergerakan.

8.      PROYEKSI POSTERO ANTERIOR OBLIQUE (PROYEKSI PA OBLIQUE)
Rotasi Medial

Gambar IIC.17  Posisi Knee untuk Proyeksi Postero Anterior Oblique ke arah medial (Ballinger, 2007)

a.       Image Receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
Pasien prone diatas meja pemeriksaan
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Kaki dirotasikan ke arah medial, angkat hip pada bagian yang tidak sakit agar objek membentuk sudut 450 medial.
2)      Letakkan fiksasi dibawah hip, jika diperlukan.
3)      Gonad shield
d.      Cetral Ray (CR)
Tegak lurus terhadap knee joint pada ½ inchi (1,3 cm) bawah apex patella.
e.       Kriteria Radiograf

Gambar IIC.18 Gambaran Radiograf Knee Joint Normal pada Proyeksi Postero Anterior Oblique ke arah medial (Ballinger, 2007)
1)      Struktur yang ditunjukkan
hasil gambar menunjukkan proyeksi PA oblique dari rotasi femoral condyles medial, patella, tibial condyles, tiniofibular joint proksimal, dan caput fibula.
2)      Kriteria Evaluasi
a)      Tibia dan fibulah terpisah pada persambungan bagian proksimal
b)      Posterior tibia
c)      Lateral condyles dari femur dan tibia
d)     Kedua tibial plateau
e)      Knee joint terbuka
f)       Tepi patella terproyeksi sedikit melebihi sisi medial femoral condyle
g)      Soft tissue di area knee joint
h)      Detail tulang pada dital femur dan proksimal tibia

9.      PROYEKSI POSTERO ANTERIOR OBLIQUE (PROYEKSI PA OBLIQUE)
Rotasi Lateral

Gambar IIC.19 Posisi Knee untuk Proyeksi Postero Anterior Oblique ke arah lateral (Ballinger, 2007)

a.       Image receptor (IR) : 24 x 30 cm melintang
b.      Posisi Pasien (PP)
Pasien prone diatas meja pemeriksaan
c.       Posisi Objek (PO)
1)      Angkat hip joint pada bagian yang sakit, dan rotasikan jari kaki dan knee ke arah lateral agar membentuk sudut sebesar 450.
2)      Beri fiksasi pada hip
3)      Gonad shield
4)      Holmblad merekomendasikan knee difleksikan sebesar 100.
d.      Central Ray (CR)
Tegak lurus terhadap knee joint pada ½ inchi (1,3 cm) bawah apex patella.

e.       Kriteria Radiograf

Gambar IIC.20 Gambaran Radiograf Knee Joint Normal pada Proyeksi Postero anterior Oblique ke arah lateral (Ballinger, 2007)

1)   Struktur yang ditunjukkan
Hasil gambar dari proyeksi PA oblique menunjukkan rotasi lateral femoral condyles, patella, tibial condyles, dan caput fibula.
2)      Kriteria Evaluasi
a)      Medial femoral dan tibial condyles
b)      Tibial plateau
c)      Knee joint terbuka
d)     Fibula superposisi diatas bagian lateral tibia
e)      Tepi patella terproyeksi sedikit melebihi femoral condyles lateral.
f)       Soft tissue di daerah knee joint
g)      Detail tulang pada distal femur dan proksimal tibia