Tampilkan postingan dengan label kumpulan sop icu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan sop icu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Maret 2017

SOP & CARA VERBEDEN (GANTI LAKEN) DENGAN PASIEN DIATASNYA


PENGERTIAN VERBEDEN
Merupakan suatu tindakan / keterampilan keperawatan yang biasa dilakukan sehari-hari yaitu mengganti linen (verbeden) dengan situasi / kondisi pasien tetap berada diatas tempat tidur.

TUJUAN DARI VERBEDEN
  1. Memberikan kesan rapi pada tempat tidur pasien. 
  2. Mengurangi resiko infeksi. 
  3. Menjaga kebersihan pasien dan ruangan.

PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN KEPERAWATAN VERBEDEN
1. Persiapan Alat : 
  • Alat tenun (linen) bersih disusun berdasarkan pemakaiannya : laken, stik laken, perlak, sarung bantal, selimut. 
  • Kursi atau bangku  
  • Tempat kain kotor yang tertutup 
  • Alat semprot yang berisi cairan desinfektan, contohnya terralin  
  • Lap kerja 2 buah
2. Persiapan Pasien : 
  • Pasien pada posisi terlentang di atas tempat tidur  
  • Jelaskan pada pasien prosedur yang akan di lakukan 

3. Persiapan Tempat : 
Ruangan rawat inap yang sesuai 

PROSEDUR PENGGANTIAN LINEN DENGAN PASIEN DITEMPAT TIDUR
  1. Cuci tangan  
  2. Meletakkan alat yang telah di siapkan ke dekat pasien  
  3. Bersihkan rangka tempat tidur  
  4. Letakkan selimut dan bantal pasien yang tidak perlu ke atas kursi (jika tidak mengganggu pasien)  
  5. Miringkan pasien ke satu sisi (bila perlu ganjal satu sisi supaya tidak jatuh)  
  6. Lepas alat tenun pada bagian yang kosong dari bawah kasur lalu gulung satu persatu sampain dengan di bawah punggung pasien. Gulung stik laken ke tengah tempat tidur sampai sejauh mungkin. Bersihkan perlak dengan larutan desinfektan dan keringkan lalu gulung ke tengah tempat tidur sejauh mungkin gulung laken atau sprei besar ke tengah tempat tidur sejauh mungkin  
  7. Bersihkan alas tempat tidur dan kasur dengan lap lembab yang disemprot larutan terralin, lalu lap kembali dengan lap kering  
  8. Bentangkan sprei besar bersih kering dan gulung setengah bagian, letakkan setengah gulungannya di bawah punggung pasien, ratakan setengah bagian lagi kemudian pasangkan di bawah kasur  
  9. Gulung perlak dan ratakan lagi  
  10. Bentangkan stik laken bersih di atas perlak. Gulung setengah bagian dan letakkan di bawah punggung pasien, ratakan setengah lagi di atas perlak, lalu masukkan ke bawah kasur bersama dengan perlak  
  11. Setelah selesai dan rapikan pada salah satu bagian, miringkan pasien kearah yang berlawanan yang tadi telah di bersihkan (ganjal dengan bantal supaya tidak jatuh)  
  12. Lepas alat tenun yang kotor dari bawah kasur  
  13. Angkat stik laken dan masukkan pada tempat kain kotor  
  14. Bersihkan perlak kemudian di gulung ke tengah  
  15. Lepas laken kotor kemudian letakkan pada tempat kain kotor  
  16. Bersihkan alas tempat tidur dan kasur  
  17. Buka gulungan laken dari bawah punggung pasien, tarik dan ratakan setegang mungkin kemudian masukkan ke bawah kasur  
  18. Pasang perlak dan spraei seperti tadi  
  19. Lepas sarung bantal dan guling yang kotor, ratakan isinya kemudian pasang sarung yang bersih   
  20. Susun bantal, lalu baringkan kembali pasien pada posisi yang nyaman  
  21. Ganti selimut kotor dengan yang bersih  
  22. Bereskan alat-alat dan kembalikan pada tempatnya 

EVALUASI 
1. Dokumentasikan hasil tindakan 
2. Merapikan pasien 
3. Cuci tangan

Selasa, 05 April 2016

SOP / Cara Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu, Puasa & 2 Jam Post Puasa

Pengertian:
Pemeriksaan GDS adalah Suatu tindakan untuk mengetahui hasil atau nilai gula darah pada pasien yang dilakukan sewaktu dan tanpa persiapan apapun. Pemeriksaan gula darah puasa (GDP) adalah tindakan untuk mengetahui hasil gula darah pasien setelah pasien melakukan puasa minimal 8 - 10 jam. Pemeriksaan gula darah 2 jam post puasa (GD 2jam PP) adalah tindakan untuk mengetahui hasil gula darah pasien 2 jam setelah pasien makan setelah sebelumnya pasien puasa minimal 8-10 jam.

Tujuan Pemeriksaan GDS:
  • Pemeriksaan laboratorium harian
  • Acuan tidakan medis
  • Pengobatan yang tepat
  • Pemilihan diit yang tepat
  • Pencegahan resiko hiperglikemi
Kebijakan :
Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) dilakukan oleh petugas laboratorium. Pemeriksaan GDS juga boleh dilakukan oleh dokter dan perawat.

Alat dan bahan:
  1. Mesin gluco test
  2. Strip stick GDS
  3. Jarum / lancet GDS
  4. Alkohol swab
  5. Perlak dan pengalas
Prosedure Tindakan Pemeriksaan GDS / GDP / GD 2 jam PP:
  1. Cek order dokter.
  2. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan bersih.
  3. Lakukan kontrak / persetujuan dengan pasien. 
  4. Bawa alat ke dekat pasien.
  5. Pasang sampiran atau privasi.
  6. Papan perlak dan pengalas pada bawah jari yang akan ditusuk.
  7. Nyalakan mesin Gluco Test dan pastikan sudah menyala dengan baik, kemudian pasang strip stick GDS nya secara benar dan pastikan sudah bergambar darah pada layar.
  8. Lakukan pemilihan jari untuk pemeriksaan GDS yaitu: jari telunjuk, jari tengah dan jari manis.
  9. Berikan / oleskan swab alkohol pada jari yang akan ditusuk.
  10. Tusuk ujung jari pasien secara hati-hati.
  11. Tekan daerah sekitar tusukan dengan jari kita agar darah keluar, pastikan darah keluar secukupnya.
  12. Tempelkan ujung stick GDS pada mesin Gluco test ke darah pasien.
  13. Setelah cukup tunggulah beberapa detik untuk melihat hasilnya pada layar.
  14. Setelah hasil keluar catatlah pada lembar cetatan perawat / petugas laboratorium,
Tahap Terminasi:
  1. Cuci tangan dengan prinsip bersih.
  2. Berpamitan dengan pasien.
  3. Laporkan hasil pemeriksaan pada dokter yang meminta.

Unit Terkait:
  1. Laboratorium
  2. Instalasi Gawat Darurat
  3. Ruang rawat biasa dan intensive

Selasa, 02 Februari 2016

SOP / CARA MELAKUKAN ROM ANGGOTA GERAK ATAS (TANGAN)


Pengertian
Menggerakkan sendi ekstremitas atas secara aktif atau pasif
Tujuan
1.    Menjaga dan mengembalikan kelenturan sendi
2.    Meningkatkan vaskularisasi
Kebijakan
Klien dengan keterbatasan rentang gerak dan immobilisasi
Prosedur
Peralatan

1.     Penghangat/ WWZ dan sarungnya
A.    Tahap PraInteraksi
1.   Mengecek program terapi
2.   Mencuci tangan
3.   Menyiapkan alat

B.     Tahap Orientasi
1.   Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien
2.   Menjelaskan tujuan  dan prosedur pelaksanaan
3.   Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien

C.    Tahap Kerja
1.   Menjaga privacy pasien
2.   Menghangatkan sendi yang akan dilatih selama
3.   Melatih sendi-sendi secara bergantian
a.    Bahu:
1)   Menggerakkan lengan Abduksi-Adduksi
2)   Menggerakkan lengan Fleksi-Ekstensi
3)   Menggerakkan lengan Hiperekstensi-posisi anatomi
b.    Siku: menggerakkan lengan bawah Fleksi-Ekstensi
c.    Lengan bawah: menggerakkan Pronasi-Supinasi
d.   Pergelangan tangan:
1)        Menggerakkan Fleksi radialis
2)        Menggerakkan Fleksi ulnaris
3)        Menggerakkan Hiperekstensi-Fleksi
e.    Jari-jari
1)   Menggerakkan Abduksi- Adduksi
2)   Menggerakkan Fleksi-Ekstensi
4.   Merapikan pasien

D.  Tahap Terminasi
1.    Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
2.    Berpamitan dengan klien
3.    Membereskan alat-alat
4.    Mencuci tangan
5.    Mencatat kegiatan dalam lembar catatan perawatan
Unit terkait
ICU, HCU, SCU, dan Rawat Inap

Minggu, 24 Januari 2016

SOP / CARA PROTOKOL PENANGANAN HIPOGLIKEMI

Pengerian Hipoglikemi
Hipoglikemi adalah suatu keadaan di dalam tubuh manusia dimana kadar gula didalam darahnya cukup rendah hingga dibawah normal.

Tanda dan gejala dari hipoglikemi 
Orang dengan hipoglikemi biasanya akan menunjukkan kondisi dimana orang tersebut akan terlihat lemas hebat, muncul keringat yang banyak, tangan dan kaki gemeteran, pusing, serta tidak bisa bergerak.

Tujuan
Tujuan dari penanganan hipoglikemi adalah agar masalah hipoglikemi dapat segera teratasi dan tidak timbul masalah yang lebih lanjut pada pasien tersebut.

Hal - hal yang harus dilakukan dan dipantau selama pasien terjadi hipoglikemi adalah
- Pantau keadaan klinis: lemas hebat, muncul keringat banyak, dan gemetaran
- Pantau GDS (gula darah sewaktu) pasien
- Kaji adanya riwayat penyakit gula (diabetes melitus)

Prosedure Penatalaksanaan Penanganan Hipoglikemi (gula darah rendah):
- Jika GDS < 60 mg/dl berikan dextrose 40% sebanyak 2 flacon + infus dextrose 10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 60 - 80 mg/dl berikan dextrose 40% sebanyak 1 flacon + infus dextrose 10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 80 - 100 mg/dl berikan infus dextrose  10% 500cc/8 jam
- Jika GDS 100 - 150 mg/dl berikan infus dextrose 5%  500cc/8 jam
- Jika GDS 150 - 200 mg/dl berikan infus Nacl 0.9% 500cc/8 jam

Lakukan pemeriksaan GDS tiap jam sampai GDS > 100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya Lakukan pemeriksaan GDS tiap 2 jam sampai GDS >100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya lakukan pemeriksaan GDS tiap 4 jam sampai GDS > 100 mg/dl selama 3 kali berturut - turut.
Selanjutnya lakukan pemeriksaan GDS tiap 6 jam KGDH  + koreksi dosis kelipatan 5 unit mulai dari GDS 150 - 200 mg/dl  dan kelipatannya.
Artinya:
- GDS 150 - 200 mg/dl berikan insulin  sebanyak 5 unit
- GDS 200 - 250 mg/dl berikan insulin sebanyak 10 unit
- GDS 250 - 300 mg/dl berikan insulin sebanyak 15 unit
- GDS 300 - 350 mg/dl berikan insulin sebanyak 20 unit
- GDS 350 - 400 mg/dl berikan insulin sebanyak 25 unit


Semoga bermanfaat..

Senin, 14 Desember 2015

SOP / Cara Tindakan Lumbal Fungsi (Pungsi)


1.      Pengertian Prosedure Lumbal Fungsi
Adalah suatu cara pengambilan cairan cerebrospinal melalui pungsi pada daerah lumbal

2.      Tujuan Tindakan Lumbal Fungsi
Mengambil cauran cerebrospinaluntuk kepentingan pemeriksaan/diagnostik maupun kepentingan therapi

3.      Indikasi dari Tindakan Lumbal Pungsi
  1. Untuk diagnostik
-          kecurigaan meningitis
-          Kecurigaan perdarahan sub arachnoid
-          Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi
-          Evaluasi hasil pengobatan

  1. Untuk Therapi
-          Pemberian obat anti neoplastik atau anti mikroba intra tekal
-          Pemberian anesthesi spinal
-          Mengurangi atau menurunkan tekanan CSF

4.      Persiapan Tindakan Lumbal Pungsi
  1. Persiapan pasien
-          Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut
-          Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal pungsi.
-          Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan

  1. Persiapan Alat
-          Bak streil berisi jarum lumbal, spuit dan jarum, sarung tangan, kassa dan lidi kapas, botol kecil (bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis), dan duk bolong.
-          Tabung reaksi tiga buah
-          Bengkok
-          Pengalas
-          Desinfektan (jodium dan alkohol) pada tempatnya
-          Plester dan gunting
-          Manometer
-          Lidokain/Xilocain
-          Masker. Gaun, tutup kepala        

5.      Prosedur Pelaksanaan Tindakan Lumbal Pungsi
  1. Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur.  Lutut pada posisi fleksi menempel pada abdomen, leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada (posisi knee chest)
  2. Pilih lokasi pungsi. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa, meskipun dianjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus spinosus L4). Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan.
c.   Dokter mengenakan masker, tutup kepala, pakai sarung tangan dan gaun steril.
d. Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup.
e.  Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain, infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen longitudinal dan periosteum
f.   Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya  kedalam jaringan subkutis. Jarum harus memasuki  rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra.
g.  Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahan-lahan, sampai terasa lepas. Ini pertanda ligamentum flavum telah ditembus. Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan serebrospinal. Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. Bila cairan tetap tidak keluar. Masukkan lagi stiletnya dan tusukka jarum lebih dalam. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. Ulangi cara ini sampai keluar cairan.
h. Bila akan mengetahui tekananCSF, hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan, normalnya 60 – 180 mmHg dengan posisi pasien berrbaring lateral recumbent. Sebelum mengukur tekanan, tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan.
i.    Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal, hindarkan mengedan.
j.   Untuk mengetahui  apakah rongga subarahnoid tersumbat atau tidak, petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10 detik. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan, tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik.
k.   Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan. Masukkan cairan tesbut dalam 3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen, setiap tabung diisi 1 ml cairan CSF. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan hitung sel, biakan dan pewarnaan gram, protein dan glukosa. Untuk pemeriksaan none-apelt prinsipnya adalah globulin mengendap  dalam waktu 0,5 jam pada larutan asam sulfat. Cara pemeriksaanya adalah kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0,7 ml dengan menggunakan pipet, kemudian masukkan cairan CSF 0,5 . diamkan selama 2 – 3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih.
 Cara penilainnya adalah sebagai berikut:
(  - )    Cincin putih tidak dijumpai
( + )  Cincin putih sangat  tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih
          ( ++ )   Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi opolecement (berkabut)   
          ( +++ )    Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh
          ( ++++ )  Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat keruh

                   Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin, prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air. cAranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF, perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan.
l.      Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada pasien dengan hydrocepalus berat maka maksimal cairan dikeluarkan adalah 100 cc.
m.   Setelah semua tindakan selesai, manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya. Pasang balutan pada bekas tusukan.

6.      Setelah Prosedur
a.       Klien tidur terletang tanpa bantal selama 2 – 4 jam
b.      Observasi tempat pungsi terhadap kemungkinan pengeluaran cairan CSF
c.       Bila timbul sakit kepala, lakukan kompres  es pada kepala, anjurkan tekhnik relaksasi, bila perlu pemberian analgetik dan tidur sampai sakit kepala hilang.

7.      Komplikasi
a.      Herniasi Tonsiler
b.      Meningitis dan empiema epidural atau sub dural
c.      Sakit pinggang
d.      Infeksi
e.      Kista epidermoid intraspinal
f.       Kerusakan diskus intervertebralis