Sabtu, 25 Januari 2020

SOP KEBUTUHAN ALAT DI INSTALASI IGD DAN PELAYANAN UMUM

No
ALAT
UKURAN
JUMLAH
SATUAN
A
PEMERIKSAAN UMUM
1
Meja instrumen 2 rak
1
buah
2
Bak instrument tertutup kecil
1
buah
3
Bak instrument tertutup medium
1
buah
4
Bak instrument besar ( obsgin)
1
buah
5
Tromol kasar
Diameter sekitar 27 cm
2
buah
6
Nierbekken/ Kidney disk
Ukuran 23 cm
2
buah
7
Nierbekken/ Kidney disk
Ukuran 30 cm
2
buah
8
Timbangan injak dewasa
Sekitar 430 x320 x 70 mm
1
buah
9
Standard infus
Ketinggian dapat diatur sekitar 105-185 cm
1
buah
10
Lampu periksa halogen
1
Unit
11
Tensimeter/spyhgnomanometer dewasa
Manset dewasa
1
buah
12
Stetoskop dupleks dewasa
1
buah
13
Thermometer klinik ( alektrik)
1
buah
14
Tabung oksigen + regulator
1 m3
1
Unit
15
Masker oksigen+kanula nasal
dewasa
2
Unit
16
Tempat tidur periksa ( examination bad)
2
Unit
17
Rak alat serbaguna
1
buah
18
Penutup baki rak alat serbaguna
2
buah
B
PENANGANAN EMERGENSI DEWASA
1
Kit resusitasi dewasa
1
Unit
2
Endhotracheal tube dewasa
2,5
1
buah
3
Endhotracheal tube dewasa
3
1
buah
4
Endhotrachal tube dewasa
4
1
buah
5
Stilet untuk pemasangan ETT
No 1
2
buah
6
Nasogastric tube dewasa
5
1
buah
Nasogastric tube dewasa
8
1
buah
C
BAHAN HABIS PAKAI
1
Benang chromic (jarum tapper 0)
2/0
1
kotak
2
Benang chromic (jarum tapper 0)
3/0
1
kotak
3
Spuit disposable (steril)
1
100
Buah
4
Spuit disposable (steril)
3
200
Buah
5
Spuit disposable (steril)
5
200
Buah
6
Spuit disposable (steril)
10
50
Buah
7
Spuit disposable(steril)
20
50
Buah
8
There-way stopcock  (steril)
1
Buah
9
Infuse set dewasa
50
Buah
10
Kateter intravena
16G
50
Buah
11
Kateter intravena
18G
50
Buah
12
Kateter intravena
20 G
50
Buah
13
Kateter penghisap lender dewasa
8
1
Buah
14
Kateter penghisap lender dewasa
10
1
Buah
15
Sarung tangan steril
7
50
Pasang
16
Sarung tangan steril
7,5
50
Pasang
17
Sarung tangan steril
8
50
Pasang
18
Sarung tangan panjang (manual pasenta)
7,5
5
Pasang
19
Sarung tangan panjang (manual plasenta)
8
5
Pasang
20
Sarung tangan rumah tangga serbaguna
2
Pasang
21
Sabun cair untuk cuci tangan
1
buah
22
Plester non woven
5 x 5 cm
1
buah
D
INSERSI DANEKSTRAKSI
1
Mangkok iodine
10 cm
1
Buah
2
Tanakulum Schroeder
1
Buah
3
Klem kasa lurus (sponge foster straihgt)
1
Buah
4
Gunting mayo CVD
1
Buah
5
Alogator ekstrakto AKRD
1
Buah
6
Sonde uterus sims
1
Buah





Minggu, 29 April 2018

SOP / Cara Mengatasi Penderita Mimisan yang Benar

Cara Pertolongan Pertama pada Penderita Mimisan yang Bnar
Hidung berdarah atau mimisan dapat disebabkan oleh beberapa hal, misalnya pukulan yang mengenai hidung, iritasi pada membran mukosa hidung karena berusaha mengeluarkan sesuatu secara berulang dari rongga hidung, atau karena infeksi.
Menurut Stanley M. Zildo seperti dikutip dari bukunya yang berjudul 'First Aid, Cara Benar Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat', Kebanyakan perdarahan hidung yang terjadi pada anak-anak tidak berbahaya. Namun bila terjadi pada orang tua atau dewasa, hal ini dapat menjadi masalah serius dan membutuhkan penanganan medis.

Apabila menemui hidung berdarah atau mimisan, lakukanlah hal-hal sebagai berikut sebagai pertolongan pertama pada penderita mimisan:
1. Mintalah korban untuk duduk dengan badan condong ke depan. Jaga mulut supaya tetap terbuka supaya darah tidak menutup jalan napas.
2. Pencet hidung selama 15 menit. Tekan di bawah tulang hidung pada bagian ujungnya, lepaskan perlahan.
3. Jangan biarkan korban melesitkan ingus. Apabila perdarahan terus berlangsung, pencet hidungnya lagi selama 5 menit dan pastikan korban tidak menelan darah yang keluar.
4. Ambil kain basah atau es yang dibungkus dengan kain. Tempelkan pada hidung dan muka korban untuk mempersempit pembuluh darah.
5. Bila perdarahan berlanjut dan ada indikasi patah tulang, segera bawa ke unit penanganan gawat darurat.

Semoga bermanfaat..

Rabu, 25 April 2018

SOP / Cara Melepaskan Kateter

Pengertian Pelepasan Kateter Urine
Merupakan suatu tindakan keperawatan yang dilakukan dengan cara melepas drainase urine pada klien yang dipasang kateter dengan mengupayakan tekhnik aseptik. Pelepasan kateter urine dilakukan pada pasien yang sudah bisa mengeluarkan urine (eliminasi) urine secara mandiri.

Tujuan Pelepasan Kateter Urine
  1. Melatih klien berkemih secara normal tanpa menggunakan kateter.
  2. Mengurangi resiko infeksi saluran kemih
  3. Mengurangi resiko perdarahan pada saluran kemih
Peralatan yang Dibutuhkan Untuk Melepas Kateter Urine 
  1. Sarung tangan
  2. Pinset
  3. Spuit 10 cc
  4. Batadine
  5. Kassa steril
  6. Bengkok 2 buah
  7. Plester
Prosedur Melepas Kateter Urine
  1. Mengucapkan salam,memberitahu pasien tentang pengertian, tujuan tindakan dan procedure.
  2. Mendekatkan alat.
  3. Memasang sampiran.
  4. Mencuci tangan.
  5. Membuka plester.
  6. Memakai sarung tangan.
  7. Mengeluarkan isi balon kateter dengan spuit.
  8. Menarik kateter menggunakan pinset anatomis dan anjurkan pasien untuk tarik nafas panjang, kemudian letakkan kateter pada bengkok.
  9. Olesi area preputium (meatus uretra) dengan betadine menggunakan kassa steril. Pastikan tidak ada darah yang keluar dari meatus uretra. Apabila ada darah yang keluar segera dep atau tekan menggunakan kassa steril yang dilumuri betadine.
  10. Merapikan alat.
  11. Evaluasi pasien.
  12. Melepaskan sarung tangan dan cuci tangan.
  13. Mendokumentasikan dan mencatat pada lembar tindakan keperawatan.
Evaluasi
  1. Cuci tangan
  2. Dokumentasi

Jumat, 17 November 2017

SOP / Prosedure & Cara Menolong Orang/Pasien Tersedak

Jika Orang Dewasa Tersedak

Setiap orang pasti pernah merasa tersedak saat makan atau minum sesuatu yang bisa membuatnya menjadi batuk-batuk dan sulit untuk bernafas. Padahal bernafas adalah salah satu bagian hidup yang sangat penting bagi semua manusia.

Tubuh mengalami tersedak karena terhalangnya jalur pernafasan bagian atas akibat makanan atau benda asing lainnya sehingga menghambat seseorang bernafas dan membuatnya sesak nafas. Tersedak bisa menyebabkan seseorang mengalami batuk-batuk, tapi jika saluran pernafasan tersebut terhalang cukup banyak maka bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia.

Pertolongan pertama yang bisa dilakukan saat orang tersedak adalah:


1. Tanyakan apakah dirinya tersedak sesuatu, jika masih bisa menjawab dengan jelas maka cukup dampingi saja. Tapi jika tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut segera berikan pertolongan.

2. Jangan berikan minuman apapun, karena cairan yang masuk tersebut bisa menghambat udara.

3. Berdirilah di belakang orang tersebut dan letakkan tangan kita di sekitar perut, buatlah kepalan dengan satu tangan dan ibu jari berlawanan dengan perut sementara tangan lainnya menggenggam kepalan.

4. Dengan gerakan tajam tekan tangan ke atas dan ke dalam perut untuk mengeluarkan benda asing tersebut dari dalam tubuh.

5. Sebuah tepukan di bagian punggung atau di tulang dada bisa menyebabkan batuk dan mengeluarkan benda tersebut. Benda asing ini harus dikeluarkan dari hypopharynx atau laryngopharynx, karena merupakan bagian dari tenggorokan yang terhubung ke kerongkongan.

6. Jika benda asing tersebut tidak bisa dikeluarkan dari dalam tubuh, segera larikan ke rumah sakit, sebelum orang tersebut kehabisan nafas.

Selasa, 04 Juli 2017

SOP Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)

Definisi / Pengertian Water Seal Drainage (WSD)
WSD adalah merupakan suatu tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan baik darah atau pus dari rongga pleura ataupun rongga thorax (mediastinum) dengan menggunakan selang penghubung dari rongga ke botol WSD.


Tujuan dari Tindakan Pemasangan WSD
- Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak
- Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
- Mengembangkan kembali paru yang kolaps
- Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada
- Mengembalikan fungsi paru yaitu “mechanis of breathing”


Tipe atau Sistem WSD
A. WSD dengan sistem satu botol
  1. Sistem yang paling sederhana dan sering digunakan pada pasien simple pneumothoraks.
  2. Terdiri dari botol dengan penutup segel yang mempunyai 2 lubang selang yaitu 1 untuk ventilasi dan 1 lagi masuk ke dalam botol.
  3. Air steril dimasukan ke dalam botol sampai ujung selang terendam 2cm untuk mencegah masuknya udara ke dalam tabung yang bisa menyebabkan kolaps paru.
  4. Selang untuk ventilasi dalam botol dibiarkan terbuka untuk memfasilitasi udara dari rongga pleura keluar.
  5. Drainage tergantung dari mekanisme pernafasan dan gravitasi.
  6. Undulasi (gelembung udara) pada selang cairan mengikuti irama pernafasan yaitu saat :
  • Inspirasi akan meningkat
  • Ekpirasi menurun
B. WSD dengan Sistem 2 Botol
  1. Digunakan 2 botol ; 1 botol mengumpulkan cairan drainage dan botol ke-2 botol water seal.
  2. Botol 1 dihubungkan dengan selang drainage yang awalnya kosong dan hampa udara, selang pendek pada botol 1 dihubungkan dengan selang di botol 2 yang berisi water seal.
  3. Cairan drainase dari rongga pleura masuk ke botol 1 dan udara dari rongga pleura masuk ke water seal botol 2.
  4. Prinsip kerjasama dengan sistem 1 botol yaitu udara dan cairan mengalir dari rongga pleura ke botol WSD dan udara dipompakan keluar melalui selang masuk ke WSD Bisasanya digunakan untuk mengatasi adanya cairan dan udara pada rongga dan pada efusi pleura.
C. WSD dengan Sistem 3 Botol
  1. Sama dengan sistem 2 botol,hanya ditambah 1 botol untuk mengontrol jumlah hisapan yang digunakan.
  2. Paling aman untuk mengatur jumlah hisapan.
  3. Yang terpenting adalah kedalaman selang di bawah air pada botol ke-3.
  4. Jumlah hisapan tergantung pada kedalaman ujung selang yang tertanam dalam air botol WSD.
  5. Drainage tergantung gravitasi dan jumlah hisapan yang ditambahkan.
  6. Botol ke-3 mempunyai 3 selang :
  • Tube pendek diatas batas air dihubungkan dengan tube pada botol ke dua
  • Tube pendek lain dihubungkan dengan suction
  • Tube di tengah yang panjang sampai di batas permukaan air dan terbuka ke atmosfer

Jenis Pemasangan atau Lokasi Penempatan Selang WSD

1. Pleuren Tube:
Adalah digunakan untuk mengeluarkan cairan / udara dari rongga pleura, untuk mengembalikan tekanan negative intra pleura, memungkinkan terjadinya ekspansi paru setelah adanya cairan transudat (infeksi) dan eksudat (trauma).
  1. Area pemasangan tube pada pleura yaitu pada: Bagian apex paru (apical), Interolateral interkosta ke 1-2.
  2. Fungsi : untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
  3. Bagian basal: Postero lateral interkosta ke 8-9
  4. Fungsi : untuk mengeluarkan cairan (darah, pus) dari rongga pleura
2. Mediastinal Tube :
Adalah digunakan untuk mengalirkan cairan dari rongga mediatinum setelah operasi jantung atau operasi lain di mediastinum.


Indikasi Pemasangan WSD
1. Pneumothoraks :
  • Spontan > 20% oleh karena rupture bleb
  • Luka tusuk tembus
  • Kerusakan selang dada pada sistem drainase
2. Hemopthorak:
  • Robekan pleura/trauma
  • Kelebihan antikoagulan
  • Pasca bedah thorak (Thorakotomy)
3. Efusi pleura: penumpukan cairan non fisiologis yang berlebih
4. Emfisema: ketidak elastisan paru karena penyakit obstruktif.


Komplikasi Pemasangan WSD
• Komplikasi primer : perdarahan, edema paru, tension pneumothoraks, atrial aritmia
• Komplikasi sekunder : infeksi


Persiapan Tindakan WSD
a. Pengkajian Pasien
- Memeriksa kembali instruksi dokter
- Mengecek inform consent
- Mengkaji status pasien; TTV dan status pernafasan

b. Persiapan Pasien
1. Siapkan pasien
2. Memberi penjelasan kepada pasien mencakup :
  • Tujuan tindakan
  • Posisi tubuh saat tindakan dan selama terpasang WSD: Posisi klien dapat duduk atau berbaring
  • Upaya-upaya untuk mengurangi rangsangan nyeri seperti nafas dalam, distraksi
  • Latihan rentang sendi (ROM) pada sendi bahu sisi yang terkena
c. Persiapan alat
  • Sistem drainage tertutup
  • Motor suction
  • Slang penghubung steril
  • Botol berwarna putih/bening dengan kapasitas 2 liter, bistury/silet, trokart, cairan antiseptic, benang catgut dan jarumnya, duk bolong, sarung tangan, spuit 10cc dan 50cc, kassa.
  • NACl 0,9%, konektor, set balutan, obat anestesi (lidokain, xylokain), masker
d. Pelaksanaan
Prosedur ini dilakukan oleh dokter. Perawat membantu agar prosedur dapat dilaksanakan dengan
baik , dan perawat memberikan dukungan moril pada pasien.

Cara Pemasangan WSD (Oleh Dokter Spesialis Pulmonologi) :
  1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di linea aksillaris anterior dan media.
  2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.
  3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam sampai muskulus interkostalis.
  4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan.
  5. Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah sampai rongga pleura / menyentuh paru.
  6. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat dengan menggunakan Kelly forceps.
  7. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke dinding dada.
  8. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.
  9. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.
  10. Tindakan perawatan pasca pemasangan WSD.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Selama Pemasangan WSD :
1. Perhatikan undulasi pada selang WSD, bila undulasi tidak ada, berbagai kondisi dapat terjadi antara lain :
  • Motor suction tidak berjalan
  • Selang tersumbat
  • Selang terlipat
  • Paru-paru telah mengembang
  • Oleh karena itu, yakinkan apa yang menjadi penyebab, segera periksa kondisi sistem drainage,
2. Amati tanda-tanda kesulitan bernafas.
3. Cek ruang control suction untuk mengetahui jumlah cairan yang keluar.
4. Cek batas cairan seal dari botol WSD, pertahankan dan tentukan batas yang telah ditetapkan serta pastikan ujung pipa berada 2cm di bawah air.
5. Catat jumlah cairan yg keluar dari botol WSD tiap jam untuk mengetahui jumlah cairan yg keluar.
6. Observasi pernafasan, nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama.
7. Perhatikan balutan pada insisi, apakah ada perdarahan.
8. Anjurkan pasien memilih posisi yg nyaman dengan memperhatikan jangan sampai selang terlipat.
9. Anjurkan pasien untuk memegang slang apabila akan merubah posisi.
10. Beri tanda pada batas cairan setiap hari, catat tanggal dan waktu.
11. Ganti botol WSD setiap 3 hari dan bila sudah penuh. Catat jumlah cairan yang dibuang.
12. Lakukan pemijatan pada slang untuk melancarkan aliran.
13. Observasi dengan ketat tanda-tanda kesulitan bernafas, sianosis, emphysema subkutan.
14. Anjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan bimbing cara batuk efektif.
15. Botol WSD harus selalu lebih rendah dari tubuh.
16. Yakinkan bahwa selang tidak kaku dan menggantung di atas WSD.
17. Latih dan anjurkan klien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD.

Rabu, 03 Mei 2017

SOP Keperawatan: Mencuci Rambut Pasien (Keramas)

PENGERTIAN
Mencuci rambut dan kulit kepala dengan menggunakan shampoo dan air.

TUJUAN
1.  Membersihkan kulit kepala dan rambut 
2.  Menghilangkan bau dan memberikan rasa nyaman

KEBIJAKAN
1.  Pasien yang rambutnya kotor 
2.  Pada pasien yang akan menjalani operasi besar 
3.  Setelah dipasang kap kutu

PETUGAS 
Perawat

PERALATAN YANG DIBUTUHKAN
1.  Handuk 2 buah 
2.  Talang 
3.  Peniti 
4.  Kain pel 
5.  Baskom berisi air hangat 
6.  Gayung 
7.  Shampoo dalam tempatnya 
8.  Sisir 2 buah 
9.  Kain kassa dan kapas 
10. Ember kosong 
11. Sarung tangan bersih 
12. Bengkok berisi larutan desinfektan 2 – 3 % 
13. Celemek untuk petugas 
14. Alat pengering rambut   

PROSEDUR PELAKSANAAN
A.  Tahap Pra Interaksi 
1.  Melakukan pengecekan program terapi 
2.  Mencuci tangan 
3.  Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar

B.  Tahap Orientasi 
1.  Memberikan salam dan menyapa nama pasien 
2.  Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 
3.  Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien

C.  Tahap Kerja 
1.  Menjaga privacy 
2.  Mengenakan sarung tangan dan celemek 
3.  Mengganti selimut klien dengan selimut mandi 
4.  Mengatur posisi tidur pasien dengan kepala dipinggir tempat tidur 
5.  Memasang handuk dibawah kepala 
6.  Memasang ember dialasi kain pel 
7.  Memasang talang dengan ujung berada didalam ember 
8.  Menutup dada dengan handuk sampai ke leher 
9.  Menyisir rambut 
10. Menutup lubang telinga dengan kapas dan mata dengan kain kassa/sapu tanganpasien 
11. Menyiram dengan air hangat, menggosok (memijit-mijit) kulit kepala dan rambut dengan shampoo 
12. Membilas rambut dengan air hangat sampai bersih 
13. Melepas kapas penutup lubang telinga dan kain kassa penutup mata 
14. Mengangkat talang, mengeringkan rambut dengan handuk, kemudian dengan pengering 
15. Menyisir rambut 
16. Meletakkan kepala pada bantal yang telah dialasi handuk kering 
17. Merapikan pasien, ganti selimut mandi dengan selimut tidur 

D.  Tahap Terminasi 
1.  Mengevaluasi hasil tindakan 
2.  Berpamitan dengan pasien 
3.  Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula 
4.  Mencuci tangan 
5.  Mencatat kegiatan dalam lembar catatan